logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 SEMARANG
Line

Akhir Nahas sang Randu Alas

''WAJAH'' Ki Ageng Pandanaran tampak tergeletak miring menghadap tanah. Dalam kondisi demikian, kewibawaannya serasa punah. Tokoh pendiri Kota Semarang itu tak berdaya dan nelangsa. Pemandangan itu terlihat di Jalan Diponegoro Semarang, di antara batang-batang pohon randu alas yang baru saja ditebang, Senin (16/1) siang.

Inilah akhir yang menyedihkan dari perjalanan sebuah pohon yang berusia ratusan tahun itu. Pohon yang semula tegak perkasa, dengan batang yang berukir indah, harus ditumbangkan secara paksa. Padahal, sekitar satu setengah tahun lalu, keindahan ukirannya mulai dikerjakan.

"Tunggak Semi Agawe Asri" menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat Kota Semarang, yang aman, tenteram, dan damai berlandaskan akar tradisi. Aktivitas masyarakat divisualisasikan melalui ukiran petani membajak sawah dan nelayan menebar jala. Hal itu menunjukkan etos kerja masyarakat Semarang yang tinggi.

Ukiran tersebut sekaligus simbol akulturasi antara budaya pesisir dan agraris, sebagaimana kondisi masyarakat Semarang yang nyata. Di tengah-tengahnya terdapat ukiran sulur daun, dengan langgam khas Semarangan.

Penebangan pohon itu juga mengundang pertanyaan bagi MA Sutikno. Wajar saja, pasalnya, seniman yang mengelola Sanggar Seni Gedong Songo itu merupakan orang yang memahat pohon tersebut. Kira-kira satu setengah tahun silam, dibantu beberapa rekan sejawatnya, seniman yang tinggal di Jalan A yani 36 Ungaran itu mendesain pohon randu alas setinggi enam meter bak sebuah patung.

Berita penebangan pohon itu terang saja mengejutkan dirinya. Sebab, sebagai pembuat desain ukiran, dirinya mengetahui penebangan itu justru dari media massa.

"Kami sangat menyayangkan penebangan itu. Seharusnya Pemkot Semarang selaku penanggung jawab bisa melakukan perawatan pohon secara rutin," ujarnya.

Menurut penuturannya, sejak awal perencanaan pembuatan ukiran pohon itu, ada kesepakatan yang mengharuskan perawatan setiap tiga bulan sekali. Namun, kata dia, sepertinya Pemkot tidak begitu memperhatikan hal tersebut. Padahal, untuk pohon randu alas mengenal sejumlah musim, salah satunya musim rontok.

Sutikno menyayangkan sikap Pemkot yang tak memberi perawatan dengan memberi semacam obat tanaman, ketika mengetahui pohon tersebut akan mati. Sebaliknya, pihaknya menampik tudingan yang mengatakan bahwa ukiran tersebut menjadi penyebab matinya pohon berusia ratusan tahun itu. Setiap kali membikin ukiran dari bahan apa pun, dia mengaku selalu memperhitungkan secara detail celah-celah yang akan dipahatnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang, Drs Suseno MM, mengatakan, alasan Pemkot menebang pohon randu alas itu karena faktor keamanan. Selain itu, pohon yang beberapa waktu silam sempat menimbulkan pro-kontra saat dilakukan pengukiran itu, diduga sudah mati.

"Kami sudah mempertimbangkan lama. Terlebih berkali-kali kami menerima pengaduan masyarakat agar menebang pohon tersebut. Apalagi, sekarang musimnya angin kencang yang bisa mengakibatkan pohon roboh. Daripada nanti memakan korban mobil yang lalu lalang, ya, akhirnya kami putuskan ditebang," kata Suseno.

Setelah dilakukan penebangan itu, lanjut dia, baru diketahui bahwa pohon tersebut dalamnya sudah keropos.

Lebih jauh dia mengungkapkan, dulu pada awal perencanaan, Pemkot berharap agar pohon tersebut bisa tetap hidup dan bertahan untuk waktu cukup lama. Namun, perkembangannya, pohon setinggi 6 meter itu tak cukup kuat untuk hidup. "Diduga, saat diukir ada jalur kambium yang terputus. Dengan terputus, pohon itu tak dapat menyerap sari makanan," ungkapnya.

Pemkot, dalam waktu dekat ini, berencana membuat taman di tempat tersebut. Di masa mendatang, Pemkot telah memikirkan untuk mengganti pohon alternatif, yang terletak di pinggir Jalan Diponegoro itu. "Jenisnya masih kita pertimbangkan. Bisa saja pohon mahoni, asam, atau lainnya," jelasnya.

Ketika disinggung tentang bekas pohon yang sudah terpotong menjadi beberapa bagian itu, Suseno mempersilakan siapa saja yang mau membawa tanpa dipungut biaya. "Monggo, siapa yang minat," ujarnya. (Fahmi ZM, Rukardi-56h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA