logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 SEMARANG
Line

Beredarnya "Playboy", Tantangan Serius bagi Pendidikan Nasional

SEMARANG - Di tengah-tengah masalah kualitas dan mutu yang masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara tetangga, dunia pendidikan nasional kembali dihadapkan masalah krusial lainnya, yaitu penerbitan majalah Playboy.

Padahal selama ini, dunia pendidikan masih dihadapkan pada berbagai persoalan, antara lain biaya pendidikan yang tidak dapat terjangkau masyarakat, kekerasan antarpelajar, hingga siswa yang bunuh diri akibat tidak mampu membayar sekolah.

Hal ini diungkapkan Direktur Akademi Teknik Perkapalan (ATP) Veteran Semarang, Drs Untung Budiarso, ketika bersilaturahmi ke Kantor Suara Merdeka Jalan Pandanaran 30 Semarang. Untung yang hadir bersama Pembantu Direktur III Tugino SH AMD dan tiga mahasiswa ATP diterima Kepala Biro Kota Semarang, Agus Fathudin Yusuf.

"Munculnya majalah Playboy akan menambah beban pendidikan Indonesia dan memengaruhi tujuan pendidikan nasional. Pendidikan tidak lagi dimaknai sebagai fenomena kultural dalam usaha memanusiakan manusia, tetapi hanya dijadikan alat kepentingan modal para kapitalis untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya," ungkapnya.

Kehadiran majalah itu akan mengakibatkan pihak keluarga, guru, dan dosen harus melakukan pengawasan ekstra terhadap anak didiknya. "Anak-anak (siswa) hanya akan menjadi objek. Padahal di sisi lain, bicara soal seks dan pronografi, haruslah dituangkan melalui media seni dan pendidikan," tandasnya.

Selanjutnya, langkah yang akan ditempuh ATP adalah mengajukan surat ke Kopertis yang mengimbau agar peredaran dan distribusi majalah itu tidak sampai merambah bidang pendidikan. "Hal itu kami akui memang sulit, tetapi paling tidak institusi pendidikan harus diamankan terlebih dahulu," katanya.

Kedisplinan

Andi (17), mahasiswa peringkat pertama ATP menuturkan, hingga saat ini masih banyak kekurangan yang terjadi di dunia pendidikan nasional. Salah satu solusinya adalah dengan menegakkan kedisplinan pendidikan, mulai dari siswa SD hingga mahasiswa. Sebab, dengan adanya majalah ini hanya akan menambah lemahnya kedisplinan.

Disinggung mengenai tabloid "seronok" lainnya yang juga banyak beredar di pasaran, dia mengatakan, tabloid-tabloid itu beredar secara sembunyi-sembunyi dan memang tetap dicari masyarakat.

''Kalau yang sembunyi-sembunyi saja tetap dicari, apalagi Playboy yang dijual secara terbuka. Dampak negatifnya adalah tidak akan ada lagi batasan antara anak-anak dengan orang dewasa mengenai seks". (H10-18d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA