logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 SEMARANG
Line

Kebun Binatang sebagai Wisata Edukatif

Oleh: Sukawi

KEBUN binatang memiliki potensi pariwisata cukup besar untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata, terutama wisata edukatif. Saat ini, Kota Semarang memiliki kebun binatang di Tinjomoyo yang rencananya dipindahkan ke Wonosari, Ngaliyan yang belum dioptimalkan. Baik fasilitas, jumlah binatang, tumbuhan maupun pemanfaatannya.

Banyak orang tua bingung harus ke mana mengajak anak-anaknya melihat binatang dan tumbuhan. Sulit dibayangkan bagaimana jadinya, jika untuk melihat lebih dekat satwa liar, anak-anak kita harus mencari langsung ke hutan.

Kemudian potensi wisata apa yang bisa dikembangkan dan memiliki nilai jual tinggi sehingga kebun binatang di Semarang dapat sejajar dengan Ragunan (Jakarta), Gembira Loka (Yogyakarta), atau Wonokromo (Surabaya) yang sudah lebih dahulu menjadi kebun binatang tujuan wisatawan domestik ataupun asing?

Adapun fungsi kebun binatang untuk perlindungan dan pelestarian kekayaan alam, baik flora maupun fauna. Selain itu sebagai tempat rekreasi yang dapat menghilangkan kejenuhan dan kelelahan, menjaga kestabilan aktivitas kerja dengan memulihkan kembali kebugaran jasmani dan rohani pengunjung.

Selain itu, ada fungsi pendidikan dengan menanamkan dan menumbuhkan rasa sayang terhadap sesama makhluk hidup, baik flora maupun fauna di kalangan anak-anak kita. Dan membentuk budi pekerti yang baik agar kelak tidak bertindak semena-mena terhadap isi bumi yang merupakan karunia Tuhan, sehingga senantiasa menjaga keseimbangan kehidupan di alam semesta.

Keberadaan kebun binatang sebagai kawasan wisata edukatif yang murah dan mudah dicapai. Selain itu merupakan salah satu ruang hijau harus tertuang dalam Rencana Teknis Tata Ruang Kota. Menurut Emil Salim (1990) bahwa keberadaan kebun binatang berfungsi memanusiawikan manusia kota. Otak manusia kota yang berpikir bisnis dan bisnis, menjadi lebih "manusiawi" dengan keakraban dan keharmonisan suasana alami di kebun binatang.

Salah satu kunci sukses keberadaan taman margasatwa yaitu kemudahan aksesibilitasnya. Pengunjung dengan mudah dapat mencapai lokasi menggunakan sarana transportasi yang tersedia.

Sementara itu, kebun binatang di pinggir kota tanpa didukung aksesibilitas yang memadai akan sepi pengunjung. Untuk mengelola kebun binatang yang baik dan sesuai fungsinya, membutuhkan dana yang cukup besar. Jumlahnya terkadang jauh lebih besar dibandingkan dengan dana yang terkumpul dari pengunjung. Contohnya, Kebun Binatang Tinjomoyo pada hari biasa rata-rata pengunjung berkisar antara 20-25 orang dan pada hari Minggu, angka pengunjung naik menjadi 100-150 orang. Dengan demikian dana yang terkumpul dari pengunjung jauh dari cukup.

Fungsi dan tujuan kebun binatang tidak boleh hanya semata berorientasi pada bisnis atau keuntungan semata berupa uang. Namun harus menyeluruh baik material maupun moral sehingga akan terungkap hasil keuntungan yang tak ternilai harganya. Sebagai contoh, manfaat kebun binatang bagi dunia pendidikan. Koleksi binatang, tumbuhan, dan lingkungan yang ada sangat besar manfaatnya dalam membantu siswa memahami dan meneliti materi pelajaran ilmu pengetahuan alam/biologi.

Pemkot Semarang terlihat kurang aktif dalam menjual kebun binatang sebagai salah satu tujuan wisata. Hal itu bisa jadi karena kurang jelinya pemerintah menangkap peluang yang sebenarnya mengandung potensi sangat tinggi dan bernilai jual. Pengembangan wisata edukatif yang cukup potensial itu, tidak akan terlepas dari strategi dan cara pemasaran yang baik serta komitmen Pemkot.

Sebagai misal, pada awalnya dengan menggandeng pihak sekolah-sekolah mulai dari TK sampai SMU untuk melakukan pembelajaran dan perjalanan wisata edukatif dengan paket khusus dan potongan harga menarik. Bahkan bekerja sama dengan biro perjalanan yang

memiliki jaringan cukup luas serta media promosi berupa brosur/pamflet, iklan di surat kabar, radio, dan televisi, sehingga menarik minat masyarakat untuk mengunjunginya.

Penanganan kebun binatang di Kota Semarang dapat dilakukan dengan berbagai hal. Di antaranya, memasukkan ke dalam program pengembangan hutan kota, dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang yang sumber pembiayaannya dapat didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ataupun menggandeng investor swasta.

Mendatang, jika Pemkot mengharapkan kehadiran banyak wisatawan domestik dan asing untuk mengunjungi kebun binatang, sudah tentu program dan pengembangan wisata edukatif dapat menjadi alternatif menggali dana guna membantu membiayai kelangsungan kebun binatang tersebut. (56v)

- Sukawi ST MT adalah dosen arsitektur dan anggota Pusat Studi Pariwisata Undip Semarang.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA