logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 SEMARANG
Line

Daerah Dilibatkan dalam Pemberantasan Buta Aksara

  • 50 % Perbaikan Sekolah Ditanggung

SEMARANG - Dalam upaya pemberantasan buta aksara, Pemerintah Pusat berharap provinsi dan pemerintah kabupaten/kota juga terlibat secara aktif.

Mendiknas Bambang Sudibyo mengungkapkan hal itu dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pendidikan di Jateng, di Grhadhika Bhakti Praja Jl Pahlawan No 9, Senin (16/1).

''Kami menginginkan adanya sharing peran dan tanggung jawab berkaitan dengan pembenahan gedung sekolah yang rusak, pemberantasan buta aksara, dan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun,'' ujarnya.

Acara itu dihadiri bupati/wali kota, Gubernur Mardiyanto, jajaran Dinas P dan K Jateng, Dinas Pendidikan kabupaten/kota, sejumlah anggota DPR RI Komisi X, para dirjen di lingkungan Depdiknas, dan anggota DPRD Jateng serta DPRD kabupaten/kota.

Khusus mengenai renovasi gedung sekolah yang rusak, Bambang mengungkapkan, Pemerintah Pusat sanggup memperbaiki 50 % dari jumlah yang ada. Pihaknya berharap, sisanya bisa diatasi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

Sementara dalam hal pemberantasan buta aksara, pihaknya menginginkan adanya pembagian wewenang dan modus penuntasan. Bambang menyarankan penggunaan modus Depdiknas dan modus Bondowoso dalam upaya peningkatan "melek huruf" di masyarakat.

Modus Depdiknas adalah upaya pemberantasan dengan melibatkan organisasi PKK, Dharma Wanita Persatuan, Muslimat NU, Kowani, dan organisasi masyarakat yang lain.

Posisi Terancam

Modus Bondowoso adalah mencontoh upaya yang ditempuh Pemerintah Bondowoso, yakni bupati memberi target terhadap camat dan atau kepala desa/lurah dalam hal penuntasan buta aksara. ''Kalau tak sesuai target, posisinya bisa terancam. Selain itu, dalam pelaksanaannya melibatkan unsur TNI/Polri, PNS, mahasiswa, dan pelajar, serta komponen masyarakat lain,'' jelasnya.

Seperti diberitakan (SM,17/1), Jateng berada di urutan kedua setelah Jatim dalam hal buta aksara di Indonesia, berdasarkan jumlah penduduk dan indeks kemiskinan. Tiga besar daerah yang angka buta aksara terbesar pada penduduk berusia 15 tahun ke atas adalah Jatim sebesar 29,2 % dari jumlah nasional. Kedua Jateng (19,7 %), dan Jabar (10 %).

Dalam kesempatan itu, Dr Sudjarwo S MSc dari Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen PLS Depdiknas mengungkapkan, sasaran tahap pertama penuntasan buta aksara di Jateng adalah Brebes, Kabupaten Tegal, Wonogiri, Sragen, dan Cilacap.

Di Wonogiri, pemberantasan buta aksara pada tahap pertama berdasarkan kecamatan, diutamakan di Jatisrono, Eromoko, Purwantoro, Jatiroto, dan Wonogiri. Sementara di Cilacap adalah Kecamatan Majenang, Cimangu, Gandrungmangu, Kawunganten, dan Wanareja.

Di Sragen, yakni di Plupuh, Tanon, Masaran, Ngrampal, Karangmalang. Di Tegal, yakni Margasari, Jatinegara, Suradadi, Adiwena, Pangkah. Kemudian Brebes di Kecamatan Larangan, Ketanggungan, Banjarharjo, Brebes, dan Bulakamba. (H7-18d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA