| Rabu, 18 Januari 2006 | SEMARANG |
Ada Pendekar Bongkok di Perpustakaan BuanaDI antara deretan bangunan di Jalan Mayjen Sutoyo Semarang, Perpustakaan Buana seperti tersamarkan. Jika tak diamati secara cermat, bangunan tersebut begitu saja terlewatkan. Maklum, kecil dan menjorok ke dalam. Hanya sebidang papan nama di atas lisplang yang menjadi tanda keberadaannya. Perpustakaan Buana tak sebagaimana perpustakaan pada umumnya yang dilengkapi katalog, ruang ber-AC dengan meja dan bangku nyaman. Ruangannya sempit, berukuran 4 x 5 meter, dengan ribuan buku dan majalah yang ditata dalam deretan rak yang rapat. Suasana di dalam jadi terasa pengap, terlebih sebagian plafon pecah. Sarang laba-laba ada di sejumlah tempat. Penamaan ''perpustakaan'' untuk tempat tersebut sebetulnya tak tepat-tepat amat. Sebab dalam praktiknya, tempat itu adalah persewaan buku. Lantas, kenapa dinamai demikian? ''Yah, itu kan cuma nama. Memang sih tidak pas betul. Tapi sudahlah, ndak usah dipermasalahkan,'' ujar Budihardjo, sang pemilik. Keistimewaannya justru terdapat pada sisi usia. Menurut keterangan Budihardjo, persewaan buku itu telah ada sejak 1964. Didirikan kakaknya almarhum, Letda Amin S Munandar, perpustakaan itu mula-mula dinamai Edi Peni. Selepas tugas sebagai tentara, dia memanfaatkan koleksi buku yang dia miliki untuk berusaha. Sebuah bangunan kecil dibuat di sisi kiri rumah milik orang tuanya. ''Waktu itu, para penyewa buku belum sebanyak sekarang. Mereka adalah para pelajar, pegawai negeri, dan pekerja kantor.'' Kini, sebagian besar koleksi di tempat itu berupa komik yang mencapai 60%, disusul buku fiksi 30%, sisanya adalah majalah. Dari sekian banyak koleksi Perpustakaan Buana, yang paling menarik adalah deretan buku-buku cerita silat. Di sana ada karya sastrawan dan penyadur besar, seperti Asmaraman Kho Ping Hoo, Khu Lung, Gan KL, dan Can. Beberapa karya Kho Ping Hoo, seperti Bu Kek Shian Su, Kisah Pendekar Bongkok, Seruling Gading, dan Pedekar Budiman. Karya Gan KL, antara lain Si Kangkung Pendekar Lugu, Rahasia 180 Patung Emas, dan Tiga Pedang Tujuh Ruyung. Tiap-tiap judul terdiri atas beberapa seri. Untuk memudahkan, satu seri cerita silat diikat menjadi satu menggunakan karet gelang. Kendati kecil dan berpenampilan apa adanya, perpustakaan ini punya banyak pelanggan setia. Sebagian dari mereka telah berlangganan puluhan tahun. Seperti Ny Dibyo, warga yang tinggal di Kampung Kauman. Menurut penuturan Mustanfirah (41), penjaga perpustakaan, perempuan itu merupakan pelanggan terlama yang telah menjadi anggota sejak 1960-an. Dalam sehari, persewaan buku yang buka dari Senin sampai Sabtu pukul 09.00-13.30 dan pukul 17.00-21.00 itu mampu menghasilkan Rp 200.000. (Rukardi-18j) |