logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 SEMARANG
Line

Perlu Kerja Sama BPOM, Deperindag dan Depkes

SEMARANG - Penyalahgunaan formalin di pasar bebas kian menghawatirkan. Karena itu, diperlukan kerja sama yang baik antara Dinas Perindustrian dan perdagangan, Dinas Kesehatan, dan BPOM agar peredaran formalin terkontrol.

Hal itu diungkapkan pakar hukum kesehatan FH Untag, Prof Dr Sarsintorini Putra SH MH, pada seminar Bahaya Penggunaan Formalin pada Makanan Ditinjau dari Aspek Hukum dan Kesehatan di Gedung Program Pascasarjana FH Untag Jalan Pemuda, Selasa (17/1).

Menurut Sarsintorini, saat ini ketiga institusi tersebut terkesan saling lempar tanggung jawab atas kasus formalin dalam makanan yang mencuat, beberapa waktu belakangan.

Tindakan hukum, sambung dia, perlu dikenakan, tidak hanya terhadap pedagang makanan kecil, namun juga produsen makanan besar, yang terbukti mencampurkan formalin atau bahan berbahaya lain dalam dagangan mereka.

Pembicara lain, ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia Jateng, dokter Taufik Kresno SpPD SH, meminta agar BPOM bekerja sama dengan media, LSM, dan para akademisi untuk berperan aktif dalam menginformasikan kandungan makanan/minuman yang beredar di masyarakat. Hal itu, kata dia, setidaknya akan meningkatkan kewaspadaan konsumen agar tidak menimbulkan kerugian di kemudian hari.

Terkepung

Ahli kesehatan pangan Undip, dokter M Sulchan MSc SpGK, menyebutkan, kehidupan manusia modern telah terkepung bahan pangan yang tak layak konsumsi. Dalam seporsi makanan yang biasa disantap tiga kali sehari, terkandung belasan zat tambahan, yang bisa merugikan kesehatan tubuh, antara lain, dari bahan pewarna sintetis, pengawet, penguat rasa, dan pemanis.

"Memang tak dapat diketahui bahayanya dalam jangka pendek. Tetapi dalam jangka panjang, akibatnya sangat merugikan, karena bisa menyebabkan kanker dan sejenisnya," katanya, seusai berbicara dalam seminar kesehatan bertajuk "Quo Vadis Keamanan Pangan Kita?" di Auditorium Pascasarjana Sunardi Undip Jl Hayamwuruk, pada hari yang sama.

Seminar yang digelar Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Undip dan Sriboga Raturaya Flour Mill itu dihadiri ratusan pedagang mi ayam dari Semarang, Surakarta, dan Pekalongan. Para pedagang tersebut merupakan pengusaha kecil dan menengah mitra binaan Sriboga.

Sulchan meminta masyarakat bertindak selektif dalam memilih bahan pangan. Dia menganjurkan penggunaan kembali berbagai bahan alami untuk makanan, sebagaimana yang dilakukan nenek moyang terdahulu.

"Sedapat mungkin kita harus menghindari penggunaan zat-zat tambahan buatan. Hal ini memang cukup merepotkan, karena alasan kemudahan dan kepraktisan. Namun, siapa yang tak sayang dengan kesehatan dirinya sendiri dan rela tubuhnya dimasuki zat-zat berbahaya?" ungkapnya. (H11,aim-18h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA