| Rabu, 18 Januari 2006 | SEMARANG |
Pedagang Mi Ayam Lakukan Kampanye
SEMARANG - Maraknya pemberitaan soal mi mengandung formalin, menyebabkan pendapatan para pedagang mi menurun drastis. Kondisi tersebut membuat pedagang mi ayam tergerak melakukan kampanye gerakan makan mi untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat. "Berita formalin itu sangat berpengaruh terhadap menurunnya omzet para pedagang mi hingga 60 %," kata Koordinator Koperasi Mi Ayam Kota Atlas (Kopermintas), Irfan Wahyudi di sela-sela Kampenye Mi Antiformalin, di Gedung Pascasarjana Auditorium Prof Soenardi Undip Jl Hayamwuruk Semarang, Selasa (17/1). Menurutnya, acara tersebut selain untuk mengabarkan masyakarat tentang mi antiformalin, juga bertujuan sebagai syukuran atas pengumuman pemerintah yang menyatakan Semarang bebas dari formalin. "Mi yang dijual para pedagang Kopermintas dijamin bebas formalin. Sebab, bahan bakunya dari pabrik yang terpercaya kualitasnya," ungkap Irfan yang juga menjabat Asisten Manajer UKM PT Sriboga Raturaya. Kampanye yang melibatkan 12 pedagang mi ayam itu diadakan di kampus Undip, hasil kerja sama antara Jurusan Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Undip dan PT Sriboga Raturaya Semarang. Ratusan mahasiswa terlihat antusias memesan mi ayam dari pedagang yang meladeni permintaan mereka. Dalam kampanye itu, disediakan sedikitnya 1.000 mangkuk mi ayam tanpa dipungut biaya sepeser pun alias gratis. Fina Hapsariwati (19), salah seorang mahasiswi mengatakan ketidakkhawatirannya menyantap mi ayam. Bersama tiga temannya dari Fakultas Ekonomi Undip, mahasiswa asal Salatiga itu mengaku tak terpengaruh pemberitaan mi mengandung formalin belakangan ini. "Takut sih, tidak. Namun saya tetap pilih makan mi ayam yang dijajakan pedagang yang mencantumkan label bebas formalin," ujar dia. Anton Putrasahaja, mahasiswa semester IX Fakultas Sastra Undip berpendapat, kampanye makan mi yang dilakukan pedagang tersebut dipandang sangat efektif. Hal itu sebagai bentuk pemberitahuan kepada masyarakat bahwa ada pedagang mi yang menjajakan bahan makanan tanpa ditambahi bahan pengawet. Diikuti Pemerintah Anton juga berharap, acara serupa diikuti pemerintah. Hal itu semata-mata agar masyarakat tak terlampau khawatir dengan bahan makanan mi. "Sering-sering saja bikin acara semacam ini di kampus. Lumayan bisa makan mi gratis, lo." Ketua Panitia Kampanye Mi Antiformalin, Eko Kustiadi mengungkapkan, acara tersebut dilakukan untuk memperingati Hari Gizi yang jatuh pada 25 Januari. Selain itu, kegiatan ini sebagai salah satu bentuk kepedulian mahasiswa terhadap nasib pedagang mi ayam. "Kami sengaja memilih kampus ini sebagai tempat gerakan Kampanye Mi Antiformalin. Sebab, bagi kami mahasiswa, mi merupakan salah satu makanan yang sering dikonsumsi," ungkap Ketua Himpunan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Jurusan Ilmu Gizi Undip itu. (fzm,aim-56d) |