logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 KEDU & DIY
Line

Aktivitas Tunagrahita di BBRSBG

''Mereka Ada yang Menjalin Hubungan Asmara''

SIANG itu telah tiba waktu makan siang bagi para penyandang cacat mental (tunagrahita) di asrama Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) Temanggung. Meski tugas untuk menyajikan makanan itu tanggung jawab dari pengelola asrama, anak-anak penyandang cacat itu berusaha juga ikut membantu ibu-ibu asrama.

Mereka ikut membawa piring, gelas, sendok, nasi, sayur serta lauk-pauk yang akan disajikan. Sementara itu, sebagian yang lain asyik bercengkerama dan bersenda gurau dengan sesama. Mereka tampak seperti bocah-bocah normal yang selalu ingin bercanda dan bermain-main apabila bertemu.

''Anak-anak itu jika tidak diawasi dan diingatkan akan terus-menerus bermain. Dan, bisa-bisa sampai keluar dari kompleks asrama ini,'' ujar Sri Rejeki, salah seorang ibu pengelola asrama tersebut.

Walaupun beberapa dari mereka sudah tidak lagi sebagai anak-anak tetapi pola pikir dan tingkah lakunya memang masih seperti bocah SD. Maklum, IQ mereka jauh dari normal, di bawah 70. Bahkan, ada pula yang sampai di bawah 50.

Di BBRSBG, mereka dibagi dalam tiga tingkat. Untuk yang IQ sangat rendah, terlebih dahulu dibina di dalam kelas persiapan. Di sini, mereka diajari untuk bisa mengurusi diri sendiri, seperti mandi, gosok gigi, berpakaian, dan mengenali identitas diri serta orang tua.

Yang memiliki IQ lebih tinggi ditingkatkan dari kelas persiapan. Mereka masuk ke jenjang kelas dasar. Pada kelas inilah mereka akan diajari sedikit tentang dasar-dasar membaca dan menulis. Yang lebih ditekankan adalah belajar keterampilan, seperti menjahit, kristik, menganyam, membuat keset, dan membuat tempat parsel.

''Beberapa anak yang dapat lulus di kelas itu kemudian dikelompokkan ke dalam kelas khusus keterampilan,'' ujar Zaetuni, salah seorang guru di BBRSBG, sambil menyatakan keterampilan itu diharapkan dapat menjadi bekal hidup mereka.

Akan tetapi, lanjutnya, ada pula yang baru sampai tahap persiapan, kemampuannya sudah tidak dapat ditingkatkan lagi. Bila hal itu terjadi maka pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa lagi sehingga terpaksa memulangkan ke rumah orang tuanya.

Perlu Teman

Dia berpandangan, penyandang tunagrahita itu memerlukan teman-teman bermain dan bersosialisasi sebagaimana halnya anak-anak normal. Dan, hal itu sangat penting bagi pertumbuhan mentalnya agar lebih baik. Namun sering ketika ingin bersosialisasi di lingkungan anak-anak normal, mereka belum dapat diterima dan bahkan diperolok-olok.

Terkadang ada orang tua merasa malu memiliki anak penderita tunagrahita sehingga hanya diisolasi di dalam rumah dan kurang berupaya memberikan perhatian untuk perkembangan mentalnya. Kenyataan itu tampak tatkala kali pertama datang ke BBRSBG, si anak merasa malu-malu bertemu orang lain yang belum dikenal.

Di tempat ini mereka dapat berkembang karena dapat leluasa bersosialisasi dengan teman-teman senasib tanpa terlalu peduli dengan cacat yang mereke alami. ''Di sini mereka sudah seperti saudara. Bahkan beberapa ada yang menjalin hubungan asmara dan salah satunya malah telah berlanjut sampai ke jenjang pernikahan,'' tutur dia. (Henry Sofyan-42j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA