logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 KEDU & DIY
Line

Bencana Alam Sering Terjadi di Daerah Gunung Api

YOGYAKARTA - Menurut pengamatan Pusat Studi Bencana (PSB) UGM Yogyakarta, ternyata berbagai bencana alam di musim penghujan ini sebagian besar terjadi di daerah gunung api aktif ataupun tidak aktif, begitu pula di gunung api kuarter ataupun tersier.

Hal itu dikemukakan Kepala PSB UGM Dr Sunarto MS, Senin (16/1), seusai diskusi tentang hasil kunjungan lapangan tim PSB UGM ke Jember, Purworejo, dan Banjarnegara.

Diskusi tersebut dihadiri para pakar geomorfologi, geografi, hidrologi, konservasi sumber daya hutan, pertanian, peternakan, dan lain-lain.

Menurut keterangan Sunarto, beberapa rekayasa sosial untuk mengarahkan masyarakat paham dan tanggap terhadap bencana longsor, perlu sejak dini adanya sosialisasi mitigasi bencana berbasis masyarakat sambil memperkenalkan teknologi sederhana untuk mendeteksi gejala-gejala longsor.

Sejumlah kegiatan mitigasi bencana longsor yang dapat disosialisasikan ke masyarakat, antara lain pola perilaku hujan melalui BMG setempat, perlunya pembangunan temporary settlement sebagai tempat pengungsian sementara jika terjadi bencana, pembangunan kesadaran masyarakat agar tanggap bencana dan peka tanda-tanda alam, dan penerapan pola budi daya lahan dengan pengaturan regenerasi hutan.

Dia mencontohkan, bencana lonsor di Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara pada 5 Januari lalu di kawasan hutan milik Perhutani yang merupakan daerah pegunungan Vulkanik, yaitu Gunung Pawinihan, dengan ketinggian hingga 1.240 meter di atas permukaan air laut.

Batuan Tersier

Gunung tersebut merupakan batuan gunung api kuarter dengan batuan andesit hipersten-augit yang mengandung hornblende dan basal olivin serta aliran lava dan breksi aliran dengan beberapa breksi piroklastik.

Lapisan bantuan itu terletak di atas formasi Merawu, merupakan batuan tersier yang mengandung batu lempung, konglomerat, serta tuff dasit. Dan, tanah yang terbentuk di wilayah itu adalah latosol.

Dia menyebutkan, secara fisik kondisi hutan rapat dengan pohon rasamala yang semula merupakan hutan produksi terbatas dan sejak 2002 dialihfungsikan menjadi hutan lindung.

Lereng pegunungan vulkanik yang mengalami pelongsoran memiliki kemiringan lebih dari 60 derajat dan di bagian pegunungan yang mengalami pengelupasan tanah memiliki kemiringan lereng 45 derajat.

Dengan beda tinggi mahkota longsor dan desa yang terlanda bencana sekitar 440 meter dan jarak horizontal dari titik longsor ke desa sekitar dua kilometer.

Sudut yang curam merupakan faktor yang memperbesar daya luncur massa tanah sedangkan pada kaki lereng mengalir Sungai Landak yang tegak lurus terhadap lereng dan beda tinggi antara dasar sungai dan permukiman lebih kurang tiga meter.

''Perbedaan inilah yang menjadikan penduduk merasa aman dari bahaya lonsor,'' ujarnya. (P12-42j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA