logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 INTERNASIONAL
Line

PM Taiwan Mundur

TAIPEI - Presiden Taiwan Chen Shui-bian Selasa kemarin menyatakan menerima pengunduran diri Perdana Menteri Frank Hsieh. Pengunduran diri ini sudah lama diperkirakan akan mengawali perombakan kabinet setelah partai berkuasa kalah dalam pemilu lokal Desember lalu.

Berdasarkan sistem politik Taiwan, presiden menunjuk perdana menteri yang bertugas membentuk kabinet dan menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan presiden berwenang merumuskan kebijakan menyangkut China dan sebagai panglima tertinggi militer.

Chen mengatakan, dia akan menunjuk perdana menteri baru sebelum Tahun Baru Imlek 29 Januari nanti. Spekulasi yang beredar di kalangan media Taiwan menyebutkan, eks kepala staf Chen, Su Tseng-chang, bakal menjabat perdana menteri baru,

''Saya sudah menerima pengunduran diri itu. Dia meletakkan jabatan setelah menunaikan tugas-tugasnya,'' kata Chen kepada wartawan di sela-sela kunjungannya ke Pulau Quemoy, pulau terdepan di perbatasan dengan China.

Partai Progresif Demokratik pimpinan Chen hanya menang di enam dari 23 daerah pemilihan wali kota dan dewan kota pada Pemilu 3 Desember lalu. Sisanya dipegang partai oposisi Partai Nasionalis (Kuomintang) dan sekutu-sekutunya.

Gaya Prancis

Partai Progresif Demokratik mendukung pemisahan Taiwan sebagai negara merdeka, sementara Kuomintang menentang kemerdekaan Taiwan dan lebih mendukung hubungan erat dengan China. Beijing sendiri menganggap Taiwan sebagai provinsi yang membangkang dan berniat merangkul kembali Taiwan. Bila perlu, dengan kekuatan militer.

''Saya harap kahinet baru dapat segera terbentuk sebelum Tahun Baru Imlek,'' kata Hsieh. Dia secara resmi akan mundur bersama seluruh kabinetnya Senin pekan depan.

Su mundur dari jabatan ketua Partai Progresif sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kekalahan itu. Namun, analis dan pendukung partai berpendapat, dia tidak semestinya disalahkan.

Kekalahan partai pimpinan Chen agaknya dipicu pula oleh kinerja buruk pemerintahan Chen dan skandal korupsi yang melibatkan eks ajudan presiden.

Tingkat popularitas Chen anjlok sampai titik terendah. Menurut salah satu survei TVBS, Chen hanya mendapat dukungan 10 persen setelah pemilu lalu.

Kuomintang mendesak Chen untuk merombak kabinet dan menerapkan kohabitasi gaya Prancis. Dalam sistem ini, presiden dan perdana menteri berasal dari partai-partai berbeda.

Namun, usulan itu agaknya sulit terwujud. Sebab, menurut analis, ada ketidakpercayaan mendalam antara partai berkuasa dan partai-partai oposisi. Perbedaan ideologis menyangkut hubungan Taiwan dan China juga menjadi faktor sulitnya terwujud pemerintahan koalisi.(rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA