| Rabu, 18 Januari 2006 | INTERNASIONAL |
''Diplomasi Veto'' di Tangan ChinaLONDON - Krisis nuklir Iran tinggal menunggu waktu untuk dibahas di Dewan Keamanan PBB. Isu ini kemudian akan cepat bergulir ke persoalan hak veto negara-negara anggota Dewan Keamanan. Tiga negara kuat Eropa mulai menyusun resolusi untuk membawa kasus nuklir Iran ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Kesepakatan perumusan resolusi itu dimulai setelah Rusia dan Barat nyaris mencapai kesepakatan soal strategi. Menteri Luar Negeri Inggris, Jerman, dan Prancis akan mendesak digelar pertemuan darurat dewan gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina pada 2-3 Februari. Sehingga, dapat dilakukan voting untuk membawa Iran ke Dewan Keamanan. Wakil Menlu AS Nicholas Burns mengatakan, dia berharap IAEA akan merujuk kasus Iran ke Dewan Keamanan. ''Amerika Serikat tetap yakin bahwa Iran adalah ancaman bagi masyarakat internasional. Iran seharusnya segera menghentikan seluruh aktivitas terkait program pengayaan uranium,'' kata dia usai menghadiri pertemuan anggota Dewan Keamanan di London, yakni Inggris, Prancis, Rusia, China dan Amerika Serikat, dengan Jerman ikut serta. ''Kami tetap sangat galau dengan tindakan-tindakan Iran selama beberapa minggu terakhir ini,'' kata dia. Rusia menyatakan, pihaknya dalam posisi ''sangat dekat' dengan pandangan Barat. Setelah mendengar pernyataan Rusia itu, Jerman, Prancis, dan Inggris mulai menyusun resolusi untuk diserahkan ke dewan IAEA. ''Resolusi itu singkat saja. Kami mendesak Direktur Jenderal IAEA Mohamed ElBaradei melaporkan Iran ke Dewan Keamanan,'' kata seorang diplomat yang tidak bersedia disebut namanya. Rusia Bergeser Bagaimana peta kemungkinan veto ''Tidak'' di antara China, Rusia, Inggris, Amerika Serikat, dan Jerman apabila isu ini sampai ke Dewan Keamanan? Moskwa sejauh ini masih tetap mengadang langkah pemberlakuan sanksi. Rusia sendiri punya kepentingan terlibat dalam pembangunan reaktor atom Iran senilai 1 miliar dolar AS. Sedangkan Beijing, salah satu negara anggota Dewan Keamanan, sangat bergantung pada impor minyak Iran. Namun, Ketua Bidang Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Javier Solana mengatakan, dia yakin China dan Rusia akan mendukung langkah Eropa ke Dewan Keamanan. Presiden Vladimir Putin mengisyaratkan perubahan sikap usai bertemu Kanselir Jerman Angela Merkel di Moskwa pekan ini. ''Sikap kami atas problem Iran sangat dekat dengan Jerman, mitra-mitra Eropa kami, dan Amerika Serikat,'' kata Putin. Pernyataan itu rupanya menjadi isyarat paling jelas bahwa Moskwa pun sudah kehilangan kesabaran terhadap Iran. Namun, Putin juga memperingatkan krisis itu seharusnya diselesaikan tanpa langkah terburu-buru dan keliru. Rusia masih berpegang pada keyakinan, memberlakukan sanksi PBB secara terburu-buru justru akan menjadi bumerang. ''Kita harus bergerak sangat hati-hati dalam wilayah ini,'' kata dia. Belum ada komentar lagi dari China. Beijing pekan lalu menyatakan, melaporkan isu ini ke Dewan Keamanan mungkin akan makin memperumit masalah. China mengingatkan ancaman Iran untuk memukul balik dengan cara menghentikan inspeksi PBB atas reaktor-reaktor atomnya. Beberapa analis mengatakan, China pada akhirnya akan mendukung langkah sanksi kalau Rusia tidak lagi menolak. Menurut diplomat, perumusan resolusi itu adalah langkah awal. Barat juga akan membujuk negara-negara berkembang di dewan IAEA seperti Afrika Selatan, Libia dan Kuba untuk memberikan suara ''Tidak'' bagi aktivitas nuklir Iran. Raksasa OPEC Iran, sebagai negara pengekspor minyak terbesar keempat di dunia, memperingatkan, setiap upaya mengisolasi negeri itu dapat berdampak pada kenaikan harga minyak dunia dan mengacaukan negara-negara industri. Rusia dan China adalah negara-negara pemegang hak veto di Dewan Keamanan, bersama dengan Amerika Serikat, Inggris dan Jerman. Kelima negara ini memiliki senjata nuklir. Amerika baru saja mengembangkan rudal nuklir jarak jauh Minuteman III yang akan bisa dikerahkan selama 30 tahun ke depan. Belum lagi pengembangan Land-Based Strategic Deterrent yang masih akan berfungsi sampai 2060. Inggris berpentingan memperbarui senjata nuklir Trident, dan karean itu bekerja erat dengan AS di bidang riset nuklir. Menurut kalangan diplomat, Rusia tampaknya sudah mulai berpihak dengan Barat. Namun, China masih sulit untuk diajak bergabung menentang Iran. Eropa, Jerman dan Inggris sudah bersikap keras dengan menghentikan proses dialog. Karena itu, ''bola diplomasi veto'' kini berada di tangan China.(rtr-gn-25) |