logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 Januari 2006 INTERNASIONAL
Line

Iran Ingin Kembali Berunding dengan Eropa

TEHERAN - Iran Selasa kemarin mengimbau trio Uni Eropa (UE) segera kembali ke meja perundingan untuk membahas program nuklirnya. Sumber diplomatik Iran di Wina mengatakan, imbauan itu disampaikan melalui sepucuk surat.

Sumber itu mengatakan surat tersebut ditulis oleh Javad Vaeedi, wakil kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Dalam surat itu, Iran mengutarakan keinginan untuk menghilangkan segala ambiguitas berkaitan dengan program nuklirnya melalui perundingan.

Sumber yang tidak mau disebutkan namanya itu mengatakan, surat tersebut menunjukkan tekad Iran untuk melanjutkan perundingan dan mencari jalan keluar dengan trio UE, meskipun ada pertemuan London.

Para pejabat dari Inggris, China, Prancis, Jerman, Rusia, dan Amerika Serikat melakukan pertemuan di London, Senin lalu. Mereka membahas kemungkinan menyerahkan masalah nuklir Iran kepada Dewan Keamanan PBB.

Surat Vaeedi menyatakan bahwa Iran siap mengadakan pembicaraan dengan trio UE, Rabu ini. Hal itu sesuai dengan jadwal yang disepakati dalam pertemuan sebelumnya di Wina bulan lalu. Trio UE yang dimaksud surat itu adalah Inggris, Jerman, dan Prancis.

Tolak Sanksi

Sementara itu, Rusia dan China kemarin menegaskan, mereka tidak ingin sanksi PBB diberlakukan terhadap Iran. Keduanya sependapat, perundingan-perundingan lebih lanjut mengenai program nuklir Iran perlu dilakukan.

Komentar China dan Rusia itu menunjukkan ketiadaan konsensus di antara negara-negara kuat, apakah mereka akan membawa isu nuklir Iran ke Dewan Keamanan (DK) PBB atau tidak.

Jerman sebelumnya mengatakan, negara-negara anggota DK masih berselisih mengenai isu nuklir Iran setelah pertemuan di London, Senin lalu. Washington dan Uni Eropa (UE) mengatakan, perundingan yang dilakukan trio UE dengan Iran tidak dapat mengusir kecurigaan terhadap nuklir Teheran. Negara-negara Barat tetap curiga Iran berusaha memiliki bom nuklir, meskipun Republik Islam itu berulang kali membantahnya.

AS dan UE beranggapan, inilah saatnya badan pengawas nuklir PBB membawa masalah nuklir Iran itu ke Dewan Keamanan. Dewan itu bisa memutuskan memberikan sanksi perdagangan atau diplomatik kepada Iran.

Kendati demikian, upaya membawa isu nuklir tersebut ke badan tertinggi PBB itu bergantung pada persetujuan kelima anggota tetap Dewan Keamanan yang mencakup Rusia dan China. ''Persoalan sanksi terhadap Iran seperti gerobak mendahului kuda. Sanksi bukan jalan yang terbaik atau satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah,'' kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Dia mengingatkan sanksi-sanksi internasional selama bertahun-tahun terhadap Irak terbukti tidak mampu mengubah perilaku rezim Saddam Hussein. Moskwa punya kepentingan terlibat dalam proyek pembangunan reaktor nuklir Iran senilai 1 miliar dolar AS.

Presiden Rusia Vladimir Putin Senin lalu mengisyaratkan Moskwa kehilangan kesabaran terhadap Iran setelah Republik Islam itu memulai kembali riset bahan bakar nuklirnya pekan lalu. Namun Putin mengingatkan semua pihak untuk tidak bertindak tergesa-gesa. (rtr-ben-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA