| Rabu, 18 Januari 2006 | EKONOMI |
Saham Pilihan pada Bursa Islami (2-Habis)PADA tahun 2005 telah terseleksi masuk sebagai pendatang baru 5 jenis saham yang kinerjanya dinilai baik menggantikan posisi 5 jenis saham yang harus keluar dari katagori kelompok JII. Kelima jenis saham baru yang mendampingi 25 jenis saham lama yang bertahan dari seleksi tersebut, yaitu saham Adhi Karya (konstruksi bangunan), saham Ciputra Surya (properti), Astra International (otomotif), Citra Marga Nushapala (transportasi) dan Energi Mega Persada (pertambangan minyak). Jenis saham lain di antara jenis saham yang berkinerja baik itu, antara lain Astra Agro Lestari dan London Sumatra (perkebunan), Aneka Tambang dan International Nickel (pertambangan), serta Telkom dan Berlian Laju Tanker (telekomunikasi, transportasi). Jenis saham terseleksi pada Jakarta Islamic Index tersebut terutama cocok bagi investor yang berorientasi investasi jangka menengah atau panjang. Investor yang berinvestasi dengan motivasi ganda dalam arti tidak sekadar hanya berorientasi mengejar keuntungan jangka pendek tetapi dengan niat yang lebih mulia sesuai dengan tuntunan syariah agama. Motivasinya tidak sekadar berorientasi pada keuntungan finansial (financial benefit), tetapi juga keuntungan sosial (social benefit). Motivasi ganda itu sejalan dengan amanat undang-undang pasar modal, yaitu untuk membantu terciptanya sumber modal sebagai sumber pembiayaan bagi dunia usaha yang mempunyai peran strategis dalam pembangunan. Selain itu sebagai wahana investasi yang menguntungkan bagi masyarakat dan tidak terjadi praktik yang merugikan di antara para pelaku pasar. Pengelompokan pasar, terutama pada pengelompokan JII itu berperan sebagai embrio untuk menciptakan pasar modal yang efisien di Indonesia. Laporan satgas dari organisasi internasional komisi sekuritas (IOSCO, 2004) mengemukakan, ada empat unsur yang dilarang pada konsep syariah, yaitu riba, penipuan, judi dan perdagangan barang-barang larangan. Jika tidak terjadi penipuan harga, maka harga jual saham di bursa akan relatif sama dengan nilai fundamental dari saham tersebut. Kriteria harga saham sejalan dengan aspek fundamentalnya atau pepatah Jawa ''ana rega ana rupa'' mencerminkan kriteria pasar modal yang efisien. BEJ dikatakan sudah efisien jika saham yang diperjualbelikan harganya sudah selaras dengan kualitas saham tersebut. Jika kualitas sahamnya baik, maka harga sahamnya juga baik dan sebaliknya jika kualitas sahamnya kurang baik, harganya juga kurang baik. Berarti tidak akan terjadi barang yang kurang baik tetapi diperjualbelikan dengan harga tinggi dan tidak akan terjadi barang yang baik diperjualbelikan dengan harga rendah. Dengan demikian bursa dikatakan sebagai bursa yang Islami jika produk atau saham yang ditransaksikan jelas kualitasnya, dan cara transaksi perdagangannya benar serta motivasi para investornya juga benar. (Prof Dr Sugeng Wahyudi, Guru Besar pada Fakultas Ekonomi Undip-33). |