| Rabu, 18 Januari 2006 | EKONOMI |
Operasi Pasar Beras Belum DiperlukanSEMARANG-Kenaikan harga beras di Kota Semarang dinilai masih berada pada tingkat yang wajar. Dalam pantauan Disperindag, kenaikan yang terjadi beberapa waktu terakhir belum menyentuh level 25%. Oleh karena itu, Disperindag melihat belum perlu digelar operasi pasar (OP) murni, untuk meredakan gejolak harga bahan pokok itu. Kasubdin Perdagangan Disperindag Kota Semarang Bambang Purnomo menjelaskan, salah satu pertimbangan untuk melaksanakan OP murni, yakni kenaikan di atas 25% dalam jangka waktu tiga bulan. Sementara, kenaikan harga yang terjadi belakangan tidak sampai pada batas itu, dan relatif masih terkendali. ''Berdasar pantauan yang kami lakukan, harga beras medium masih dalam batas normal. Kendati demikian, pantauan akan terus dilakukan untuk melihat perkembangan yang terjadi,'' katanya, Selasa (17/1). Dia mengharapkan, penyaluran beras untuk rakyat miskin (raskin) akan cukup berdampak pada harga beras di pasaran. Paling tidak, permintaan konsumen akan berkurang, karena telah dipenuhi dengan beras raskin yang berharga murah, yakni hanya Rp 1.000 per kg. ''Kalau distribusi raskin tidak memberikan pengaruh, dan terjadi kenaikan harga hingga 25% atau lebih, bisa jadi kami akan mengusulkan OP,'' tambahnya. Sebelumnya diberitakan, sejak Sabtu (14/1) lalu, Pemkot telah mulai menyalurkan raskin untuk 177 kelurahan se-Kota Semarang. Selama 2006, Pemkot mengalokasikan 864,78 ton raskin, yang akan didistribusikan selama 10 bulan. Informasi dari Bagian Ekonomi Setda, penyaluran raskin akan lebih efektif untuk meredam gejolak harga, ketimbang OP murni. Selain jumlahnya hanya 100 ton setahun, beras OP murni dihargai lebih mahal ketimbang raskin, yakni Rp 3.250 per kg. Bergantung Cuaca Sementara itu, Achmadinono (43), salah seorang pedagang di Pasar Induk Beras Dargo mengatakan, harga beras medium selama sebulan belakangan terus mengalami kenaikan. Saat ini, harga relatif stabil pada kisaran Rp 4.800/kg. Stabilitas harga itu bisa saja rusak, bergantung kondisi cuaca. ''Ada panas terus apa ndak. Kalau panas terus, mungkin harga bisa turun sedikit. Tapi kalau hujan ndak berhenti, bisa-bisa harga akan kembali merangkak naik. Sebab ndak ada panas untuk menjemur padi,'' kata dia. Saat ini, papar dia, cuaca tidak terlampau bagus dan hasil produksi belum cukup banyak, sehingga harga masih cukup tinggi. Diperkirakan, harga beras akan mengalami penurunan signifikan menjelang panen besar, sekitar Februari-Maret. Menurut dia, penyaluran beras untuk rakyat miskin (raskin) yang telah dimulai Sabtu (14/1), diprediksi tidak terlampau mempengaruhi harga. Distribusi raskin untuk Kota Semarang yang berjumlah sekitar 80 ton per bulan itu, hanya untuk membuat harga tidak melonjak naik. Soal stok, dia menjelaskan, saat ini cadangan beras di Pasar Dargo masih memenuhi. Walaupun beras dari Cirebon belum masuk, masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan kelangkaan beras di pasaran. (H9,H5-33) |