| Rabu, 18 Januari 2006 | EKONOMI |
BI Memperkirakan Rupiah Akan Terus MenguatJAKARTA- Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom memperkirakan, sepanjang 2006 rupiah akan stabil dan cenderung menguat hingga akhir tahun. Penguatan didorong menguatnya mata uang regional dan perbaikan kondisi perekonomian, sehingga risiko lebih rendah. ''Selain itu perbedaan suku bunga masih menarik, sehingga memegang rupiah akan menarik,'' katanya di Jakarta kemarin. Kurs rupiah kemarin berada pada level Rp 9.470 per dolar AS atau melemah 100 poin dibandingkan dengan posisi akhir pekan lalu Rp 9.370 per dolar AS. Meski begitu, menurut Miranda, penguatan rupiah diperkirakan terus terjadi jika ada arus masuk dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI). Selain itu, harus diperhatikan percepatan infrastruktur hukum dan peraturan untuk meningkatkan investasi. ''Menjelang kuartal terakhir akan menguat dibanding awal tahun. Karena itu, BI memperkirakan inflasi bulanan dan inflasi kuartal juga akan terus menurun. Pada kuartal satu, akan mencapai 3 persen dan kuartal kedua dan ketiga akan turun mencapai 1 persen,'' paparnya. Miranda menegaskan, inflasi tahunan akan tetap tinggi hingga kuartal tiga. Namun BI melihat inflasi bulanan dan kuartal cenderung turun. Menurunnya inflasi, diperkirakan akan terjadi jika harga minyak dunia sepanjang 2006 berkisar pada 57 dolar AS per barel. Dilonggarkan Miranda menjelaskan, BI mengisyaratkan kebijakan yang cenderung ketat masih akan terus dipertahankan pada triwulan I 2006, tetapi mulai dilonggarkan. Namun pihaknya memperkirakan tingkat suku bunga akan tetap stabil dan kalau pun meningkat terbatas. ''Kemungkinan akan terjadi sedikit penurunan pada tiwulan III tahun ini. Pertumbuhan masih akan terjadi pada sejumlah sektor seperti pertanian, pertambangan dan telekomunikasi,'' tuturnya. Kebijakan BI mengenai giro wajib minimum yang dikaitkan dengn LDR, diharapkan dapat membantu bank-bank dalam mengatur likuiditasnya. Artinya, tambah dia, dana yang ada di bank diharapkan disalurkan ke kredit secara maksimal. Sementara itu, dalam dialog yang digelar radio Trijaya FM, Muliaman Putra Hadad , Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia menyebutkan, Bank Indonesia menegaskan bank sentral tidak melonggarkan ketentuan PBI No. 7/2/2005 tentang penyeragaman kualitas aktiva produktif. Namun melakukan penjadualan penerapan ketentuan kualitas aktiva produktif. Yang dilakukan BI, kata dia sebenarnya bukan pelonggaran dalam artian mengabaikan semangat kehati-hatian. Sebab yang dilakukan BI hanya menjadualkan penerapan PBI No. 7/2/2005, sehingga fungsi intermediasi perbankan bisa lebih baik. Sementara itu, pengamat ekonomi dari UGM, Tony Prasetiantono mengaku tidak setuju jika rupiah terus menguat hingga akhir tahun. Dia menilai penguatan rupiah yang terlalu drastis akan menimbulkan kesulitan ekspor dan banjir impor. Sebaliknya, menurut Tony, jika rupiah terlalu lemah juga tidak baik, karena menunjukkan buruknya kepercayaan pasar. Karena itu, tambahnya, BI dan pemerintah harus menjaga rupiah pada kisaran Rp 9.500-Rp 9.600 per dolar AS dan tidak menembus Rp 10 ribu. (bn-33) |