| Rabu, 18 Januari 2006 | BANYUMAS |
Petani Cengkih Diajak Membibit AlbasiaKEDUNGBANTENG - Penebangan pohon cengkih besar-besaran di Desa Dawuhan Wetan, Kecamatan Kedungbanteng, yang terjadi tahun 1982, membuat Budiman galau. Tiga tahun kemudian persediaan air tanah dirasakan berkurang, dengan hilangnya puluhan titik sumber air. ''Sebagai petugas Dinas Perkebunan Banyumas, saya ikut prihatin,'' kenang Budiman, yang kini menjadi Kepala Seksi Bina Usaha Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Banyumas. Ketidakpercayaan petani memunculkan keinginan Budiman untuk mengajak petani cengkih melakukan pembibitan albasia. Selain mudah dikerjakan juga tidak padat modal serta tidak membutuhkan teknologi tinggi. Walau harus kerja keras untuk meyakinkan petani, pada tahun 1995 upaya menghijaukan kembali tanah yang gundul mulai dirasakan. Terutama untuk mengembalikan sekitar 36 titik sumber air tanah. ''Gerakan penghijauan secara swadaya memang tidak padat modal,'' tuturnya. Ternyata minat petani dalam menangkar bibit tanaman kian berkembang dan tidak hanya bibit albasia. Ada bibit pete, jengkol, melinjo, jati, dan aneka jenis tanaman untuk penghijauan. Keberhasilan itu didukung program Penanaman Sejuta Pohon, sehingga bibit tanaman menjadi laku. Hal itu juga ikut mendorong terbentuknya Kelompok Penangkar Bibit "Mekar Jaya". Dibenci Petani Saat itu saya dibenci petani, karena dianggap sebagai penyebab merosotnya harga bunga cengkih. Padahal, ada faktor penyebabnya, yang terjadi beruntun. Sekitar tahun 1976, tanaman cengkih di Kecamatan Kedungbanteng terkena penyakit bocor di batangnya. Disusul tahun 1970 terserang virus Liketsiol Like Batery (LLB), yang menyerang akar, sehingga produksi bunga cengkih turun. Tahun 1982 terkena bakteri pembuluh kayu cengkih (BPKC), kemudian ada serangan cacar daun cengkih, yang disusul monopoli perdagangan cengkih, yang dimotori Tommy Soeharto lewat BPPC. Dari pengalaman pahit dan upaya penangkaran bibit, berturut-turut Desa Dawuhan Wetan meraih penghargaan sebagai Juara II Nasional dari Menteri Kehutanan sebagai penyelamat lingkungan (1995), juara Lomba Kebun Bibit Desa Swadaya (1996), dan tahun 2000 meraih penghargaan Wana Lestari Satya Nugraha. Diakuinya, awalnya petani harus diberi contoh nyata dalam kegiatan penangkaran bibit. Mulai mengisi tanah ke polibag, memasukkan bibit, merawat dan memasarkan. Kini sudah tidak ada lagi lahan yang tidak dimanfaatkan untuk penangkaran bibit. Bahkan, mereka sudah mempunyai mitra kerja dari perusahaan, yang menyuplai bibit tanaman. (P52-39h) |