| Rabu, 18 Januari 2006 | BANYUMAS |
Waduk Mrica Terancam Dangkal
PURWOKERTO - Diperkirakan, umur waduk Panglima Besar Jenderal Soedirman Mrica Banjarnegara, yang difungsikan sebagai PLTA untuk jaringan listrik Jawa-Bali dan saluran irigasi untuk kegiatan pertanian, tidak akan lama lagi. Dari hasil kajian dan analisis pihak PT Indonesia Power, anak perusahaan PLN yang mengelola waduk tersebut, terungkap bahwa umur waduk itu dipekirakan tinggal 12 tahun lagi sejak dioperasi sekitar 1988. Hal itu disebabkan oleh tingkat sedimentasi akibat kiriman lumpur dari sejumlah sungai di daerah hulu sudah diambang batas kewajaran. Tingkat sedimentasinya setiap tahun rata-rata mencapai 4,2 juta m3 atau setara 12,6 juta m3 bila diukur dengan air yang masuk. Atau rata-rata per harinya sekitar 11.666 m3. Itu juga setara dengan 3.000 dump truk per hari kalau dilakukan pengangkutan. Untuk tahun 2005 (data November) volume kumulatif sedimentasinya mencapai 71.728.128 m3, sedangkan tahun pertama setelah beroperasi saat terjadi sedimentasi, tahun 1989, hanya 3.382.678 m3. Jumlah sedimentasi tersebut berasal dari tiga sungai besar, yang melintas di daerah tersebut, yakni Sungai Serayu, dengan tingkat erosinya mencapai 4.22 mm, Sungai Merawu 10.38 mm, dan Sungai Lumajang 2.65 mm. Sumbangan sedimentasi dari ketiganya rata-rata 621 m3. Hal itu terungkap dalam lokakarya tentang Konservasi daerah aliran sungai (DAS) Serayu Bagian Hulu, di Gedung Rektorat Lantai III Unsoed Purwokerto, kemarin. Program itu hasil kerja sama tripartit antara Pemkab Banjarnegara-Wonosobo, PT Indonesia Power (pengelola waduk PB Soedirman), dan Unsoed sendiri. Hadir selaku narasumber, General Manager UPB Mrica, Ir Teguh Adi Nuryanto; Kepala Bapeda Kabupaten Banjarnegara, Drs Fahrudin SS, MM; Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Wonosobo, Ir Agus Subagyo Msi, Administratur KKPH Perum Perhutani Kedu Utara, Ir Yusuf Kristiyanto MP; dan Staf Pengajar Fakultas Pertanian Unram, Dr I. Komang Damarjaya; serta tim peneliti Unsoed. Dirancang 60 Tahun Dalam pemaparan ataupun wawancara seusai acara, Teguh menjelaskan, semula umur waduk Mrica dirancang sampai 60 tahun. Namun, setelah terjadi pendangkalan, umurnya hanya sekitar 30 tahun saja. Sekarang sudah berjalan 17 tahun. ''Kita perkirakan umurnya tinggal 12 tahun lagi dan waduknya bisa jadi lapangan. Ibaratnya kita sudah menderita penyakit kanker dan tinggal menunggu matinya saja,'' tandasnya. Menurutnya, upaya minimal yang bisa dilakukan untuk memperpanjang umur waduk dari sisa waktu yang ada itu, yaitu dengan penataan kembali DAS, khususnya di daerah hulu sebagai pusat tangkapan air. Saat ini program itu sedang dikaji dan dilaksanakan bersama-sama oleh tripartit tersebut. Salah satunya dengan cara penghijauan kembali dan mengubah pola budidaya tanaman di daerah hulu. ''Kalau dikeruk biayanya terlalu besar dan PLN jelas tidak mungkin melakukannya, karena pemasukan kita tidak seimbang dengan biaya yang akan dikeluarkan,'' paparnya. Berdasar perhitungan timnya, total biaya pengerukan bisa mencapai Rp 210 miliar. Sementara itu, pemasukan dari pengoperasian PLTA untuk jaringan listrik ke pelanggan hanya sekitar Rp 30 miliar, sedangkan PAD yang masuk ke Pemkab Banjarnegara sekitar Rp 8 miliar/tahun. Pendangkalan itu, akunya, memang tidak berdampak secara signifikan ke suplai aliran listrik Jawa-Bali. Karena, dari PLTA Mrica hanya menyumbang sekitar 180 mw. Sifat jaringannya juga saling mengisi dan pusat-pusat pembangkit yang ada juga banyak. Namun, untuk kebutuhan irigasi sangat berpengaruh. ''Karena dangkal, tampungan air ke waduk yang semestinya bisa banyak berkurang. Sebab, airnya langsung melimpas di atas tiga unit turbin, terutama saat banjir. Bayangkan, dalam waktu tiga minggu saja, kemarin sekitar 45 juta m3 air terbuang karena melimpas.'' Sementara itu, menurut Fahrudin, upaya yang sudah dilakukan untuk program penataan kembali di DAS adalah memberdayakan masyarakat di daerah hulu, seperti di Dataran Tinggi Dieng, untuk melakukan penghijauan dan merubah model pola budidaya tanaman kentang, yang tadinya ditanam searah dengan alur tanah, kini pola tanamnya menjadi melingkar. Kemudian alternatif dalam diversifikasi tanaman, seperti tomat dan strawberi. (G22-39h) |