logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Januari 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Askes di RS Dr Kariadi

Saya ucapkan terima kasih kepada dokter Ikwandi dan dokter Okke serta perawat yang melayani selama saya berobat di RS Dr Kariadi Semarang Saya menerima rujukan dari RSU Ambarawa untuk memeriksakan luka kecil di kulit tangan kanan saya ke RS Dr Kariadi.

Sudah menghabiskan bermacam obat tapi belurn kelihatan hasilnya. Kemudian dioperasi untuk mendeteksi penyakitnya sampai 3 kali tetapi belum juga teridentifinisi hingga dinyatakan sebagai "kasus". Operasi keempat dilakukan dan luka diangkat. Saya opname selama 8 hari dan dilayani kedua dokter tersebut dengan baik dan perhatian.

Selama pengobatan saya menggunakan Askes sehingga merasa ringan. Kalau dulu Askes dirasakan seperti anak tiri, tetapi sekarang tidak.

IG Ratiban

Jl Gemawang 47 Jambu, Ambarawa

***

Berantas Korupsi

Genderang perang melawan korupsi sudah dikumandangkan, ibarat bendera yang baru dikibarkan, pantang kembali diturunkan. Seluruh rakyat berharap dan mendukung pemerintah agar semua kasus korupsi yang membuat rakyat sengsara segera dibuka, diteliti, diselidiki dan diberantas sampai akarnya.

Sejak Orba, korupsi mencuat sampai ke penjuru dunia. Berapa kali pergantian kepemimpinan nasional seolah tidak mampu memberantas korupsi yang sudah menjadi penyakit menular dan menjerat hingga melumpuhkan sendi kehidupan bangsa.

Di saat rakyat kesulitan akibat kenaikan BBM, pemberantasan korupsi mendapat acungan jempol. Paling tidak masyarakat menyambut positif. Pernyataan perang terhadap korupsi mestinya tidak hanya dikumandangkan di level pusat saja, tetapi ditindaklanjuti pemerintahan provinsi dan daerah lewat kampanye besar-besaran.

Saya bangga karena Gubernur Mardiyanto sepanjang tahun 2005 sudah mengeluarkan 48 persetujuan tertulis untuk kepentingan penyidikan baik ke polisi maupun kejaksaan. Bagaimana di Batang. Mohon Kejati Jateng memperhatikan Kejari Batang tentang kasus bengkok yang berhenti setahun lalu.

Turadi

Kauman Rt 2/Rw 8, Batang

***

Uang Jadi Panglima

Uang adalah urat kehidupan. Alat pembayaran yang sah ini telah menjadi panglima di zaman modern. Orang mencari uang untuk kehidupannya dan uang membuahkan hasil beraneka ragam. Uang bisa untuk ONH seorang nenek yang rajin menabung bertahun-tahun.

Uang bisa untuk usaha ayam bakar sehingga mampu membiayai empat istri naik haji. Uang bisa untuk membangun pondok pesantren yang menjadi pusat ilmu dan pelatihan manajemen qalbu. Uang bisa membangun panti sosial untuk anak gelandangan di pinggir Kali Code.

Tapi uang bisa mempurukkan pejabat ke dalam penjara karena korupsi. Uang bisa menjadi setitik nila dalam belanga susu lembaga hukum yang diagungkan karena hukum telah jadi komoditi. Uang dapat mengusik rasa keadilan ketika jumlah SLT dan tunjangan anggota DPR yang jumlahnya sangat kontras.

Atau ketika APBD untuk persatuan sepak bola sampai Rp 5 miliar sedang untuk panti asuhan dan yatim piatu hanya seperlimapuluhnya. Masih banyak lagi tulada yang disebabkan oleh uang. Dari berbagai contoh akibat yang ditimbulkan uang, ada satu yang patut dicatat.

Tidak semua bisa dibeli oleh uang meski orang merasa telah membelinya. Lalu apa saja yang bisa dibeli oleh uang, ada baiknya dikutip pendapat K Sri Dhammananda, pengarang buku Hidup sukses dan bahagia tanpa takut dan cemas, sbb:

"Apa yang bisa dibeli dengan uang... Ranjang, bukan tempat tidur. Buku, bukan pengetahuan. Makanan bukan selera. Perias wajah bukan kecantikan. Bangunan bukan rumah. Obat bukan kesehatan. Kemewahan, bukan ketenteraman. Kesenangan bukan kebahagiaan. Agama bukan keselamatan".

M Fahrudin Hidayat

Jl Raden Patah 2 Bawang, Batang

***

Ponsel dan Pornografi

Melonjaknya penggunaan telepon seluler menarik perhatian para ahli ilmu sosial karena fenomena yang begitu unik dalam memengaruhi perilaku dan interaksi sosial di masyarakat. Di beberapa negara Eropa makin banyak murid sekolah yang salah menulis kata-kata karena terbiasa menggunakan SMS.

Fenomena dalam simposium Bahasa di Madrid Spanyol, salah satu kesimpulannya adalah penggunaan bahasa makin efektif dan ringkas lewat SMS tetapi menimbulkan efek negatif pada penggunaan sehari-hari.

Beberapa waktu lalu muncul berita, anak-anak sekolah melihat adegan vulgar pornografi melalui ponselnya. Kemudahan dan makin lengkapnya fitur ponsel baik berupa kamera, games, player file MP3 dan video serta kemudahan kirim gambar membuat stimulus anak untuk mencoba.

Celakanya yang dicoba hal negatif termasuk adegan yang belum layak mereka tonton. Pengaruh negatif cepat berkembang karena ponsel tidak lagi identik dengan orang kaya. Remaja dan anak-anak sekolah sekarang tidak merasa modern dan gaul jika tidak punya ponsel.

Ponsel juga jadi identitas status sosial. Setiap kali keluar model mutakhir, mereka berupaya mendapatkan. Tentu penggunaannya tidak melulu negatif, banyak juga nilai tambahnya.

Yang harus dicermati dan difilter adalah penggunaan ponsel untuk hal negatif misal mendistribusikan gambar atau video yang vulgar, menghabiskan waktu main games, melakukan teror atau menipu berkedok hadiah.

Untuk tahun 2006, pasti fitur ponsel akan ditambah dan ditingkatkan kualitasnya. Namun jangan sampai fitur ini menjadi distribusi pornografi di kalangan anak usia sekolah. Orang tua dan sekolah semestinya berperan aktif menyeleksi penggunaan ponsel khususnya yang mempertontonkan dan mendistribusikan pornografi.

Sularso Budilaksono

Jl Cempolorejo VII/4, Semarang

***

Untuk Kotaku, Salatiga

Mereka yang mendirikan koperasi simpan pinjam tentu telah memahami PP No 9 Tahun 1995 tentang Pelaksanaan Kegiatan Simpan Pinjam oleh Koperasi. Bab 1 ps 1 ayat 4: Simpanan adalah dana yang dipercayakan anggota, calon anggota koperasi, koperasi lain dan atau anggotanya kepada koperasi dalam bentuk tabungan dan simpanan berjangka.

Ps 1 ayat 5: Simpanan Berjangka adalah simpanan di koperasi yang penyetorannya dilakukan sekali dan penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan dengan koperasi yang bersangkutan.

Simpanan berjangka koperasi adalah produk koperasi yang pada prinsipnya sama persis dengan produk deposito di bank, keduanya diatur oleh peraturan yang sah. Kepentingan nasabah bank dengan anggota koperasi dalam "menyimpan" adalah sama. Bedanya pada cakupan wilayah yaitu untuk anggota koperasi bukan umum.

Sedang bank dalam menghimpun dana bisa dari umum termasuk "masyarakat koperasi". Bank menyebut sebagai dana pihak ketiga (DPK) sedang koperasi hanya mengenal dana "pinjaman" pihak ketiga. Tentu timbul persaingan, tidak hanya di dana. Bank besar turun ke bawah dengan kredit mikronya Rp 1 juta. Pasar tradisional pun dirambah.

Bagi koperasi hal itu bukan saingan tapi pertolongan untuk anggota bisa peroleh kredit murah dan mudah. Kalau koperasi simpan pinjam tumbuh menjamur, hal itu harapan dan sasaran kerja Menkop. Berita tentang koperasi punya arti besar bagi kotaku Salatiga yang berpenduduk 160.000 jiwa dengan koperasinya 150 buah dan tahun 2003 dikukuhkan menjadi Kota Koperasi.

Terbukti kekuatan koperasi memang benar-benar dahsyat sampai mampu membuat risau kalangan perbankan. Pemkot Salatiga beserta jajarannya ternyata sudah benar dalam mengembangkan perekonomian masyarakat lewat koperasi. Kekuatan itu sudah terbukti, kini tinggal bagaimana melanjutkan.

Arief Budi Raharjo

Jl Argoboga 21Argomulyo, Salatiga

***

Demam Berdarah

Penyakit demam berdarah makin meningkat. Pemkot Semarang telah melakukan berbagai usaha untuk menanggulangi penyakit ini, di antaranya dengan kegiatan pengasapan, sosialisasi 3M serta Resik-resik kutha. Mari kita semua menguras bak mandi, menutup tempat penampungan dan mengubur barang bekas yang menjadi sarang nyamuk. Lebih baik mencegah daripada mengobati dengan menjaga kebersihan.

Adi Wicaksono

Siswa SD Pleburan 04, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA