| Selasa, 17 Januari 2006 | WACANA |
tajuk rencanaTak Mungkin Sepihak Melihat Nuklir Iran- Masih adakah celah bagi krisis mengenai tuduhan nuklir Iran? Kita menggunakan kata ''tuduhan'' bagi perang opini yang kini makin sengit antara negara-negara Barat dengan Iran seputar program nuklir. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyatakan tidak gentar dan tidak akan goyah untuk mengembangkan teknologi nuklir, walaupun Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa mengancam membawa krisis ini ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) agar Iran dikenai sanksi. Sementara Kanselir Jerman Angela Merkel sebelumnya menegaskan Barat tidak merasa terintimidasi dengan keputusan Iran meneruskan program tersebut, dan akan membujuk sebanyak mungkin negara lain untuk menolak. - Mengapa masih bersifat ''tuduhan'', karena polemik tentang dugaan pengayaan uranium itu boleh dikatakan sebagai pergumulan harga diri. Teheran berkali-kali menjelaskan mengenai program nuklirnya yang bukan untuk memproduksi senjata pemusnah massal tetapi sebagai proyek kemaslahatan sosial pembangkit energi. Namun Eropa, terutama dengan sponsor Amerika, tidak mempercayai Iran memiliki kejujuran menyangkut proyek tersebut. Di tengah krisis, Rusia -- yang membantu negeri para mullah itu dalam membangun reaktor nuklir di Bushehr -- tetap melihat belum ada kebuntuan, dan masih ada celah poitik-diplomatik untuk mencegah persoalannya berkembang menjadi bentrokan. Rusia menawarkan solusi lain. - Presiden Vladimir Putin bersikap lebih moderat, karena bagaimanapun, Rusia memang ''lebih tahu'' dan ''lebih dipercaya oleh Iran'' dibandingkan dengan negara Eropa lainnya. Menteri Pertahanan Sergio Ivanov menawarkan solusi kegiatan pengayaan uranium proyek Iran itu dilaksanakan secara bersama-sama di wilayah eks Uni Soviet tersebut. Iran sendiri mengancam akan menghentikan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) jika masalah tersebut dibawa ke DK PBB. Kita yakin, sikap Rusia, terutama celah politik-diplomatik yang ditawarkan oleh Menhan Ivanov, merupakan bagian dari kedekatan kedua negara tersebut, dan bisa jadi terdapat konsesi-konsesi khusus yang sejauh ini memang belum terungkap. - Agresivitas Presiden Ahmadinejad dalam ''menyerang'' Barat dan AS dengan pernyataan-pernyataannya yang keras, menjadi pemicu lain. Ketelanjangan untuk mengungkapkan sikap politik terhadap Israel pada satu sisi, jelas menggelar sebuah garis tegas dengan AS. Namun pada sisi lain juga menegaskan tentang fakta ''faktor Israel'' yang menciptakan sikap politik makro Amerika dan Barat di Timur Tengah. Kalau hanya dipandang dari satu sisi, cecaran terhadap Iran dalam isu nuklir jelas tidak adil. Apakah Iran -- dengan disokong secara diam-diam oleh Rusia -- memang bermaksud menciptakan peta keseimbangan untuk mempertinggi posisi tawar di hadapan arogansi dan dominasi Amerika dalam skema geopolitik di kawasan ini? - Bahwa tampilnya Ahmadinejad sebagai pucuk pimpinan di Iran telah menciptakan atmosfer kegerahan bagi Amerika, hal itu merupakan kenyataan lain di tengah kondisi panas Timur Tengah yang kini makin meluas. Situasi Irak masih membara. Pemerintahan baru hasil pemilu yang didukung Washington belum mampu menciptakan stabilitas, karena fakta yang kini berkembang adalah keinginan hengkangnya pasukan pendudukan AS dan sekutunya. Di Suriah, Presiden Bashir Assad tengah dalam tekanan Barat karena tuduhan terlibat dalam pembunuhan mantan PM Lebanon Rafik Hariri, dan diduga Amerika ada di balik rumor tersebut karena Assad termasuk yang tidak mudah untuk dijinakkan dengan intimidasi-intimidasi. - Belum lagi kondisi kritis PM Israel, Ariel Sharon yang akan menentukan masa depan perdamaian dengan Palestina. Jika Sharon meninggal, bukan tidak mungkin agenda-agenda perdamaian kembali ke titik nol, karena garis keras Israel akan memegang kendali. Tumpukan bara di berbagai kawasan Arab ini tidak bisa saling berdiri sendiri. Sikap mendua AS dan sejumlah negara Eropa dalam menyikapi persoalan Timur Tengah banyak menyulut ketidakpuasan, dan membawa efek perlawanan dalam berbagai bentuknya. Krisis nuklir Iran pun, kalau AS dan Barat mau jujur, sebenarnya berada dalam garis perspektif ini. Penyelesaiannya tidak dapat dipaksakan dari pihak Iran saja, tetapi merupakan gambaran krisis geopolitik secara makro. |