| Selasa, 17 Januari 2006 | WACANA |
tajuk rencanaKurs Rupiah Menguat Ribut, Melemah Apalagi- Kurs rupiah mengalami penguatan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Sekarang posisinya di sekitar level Rp 9.370/dolar AS. Relatif paling kuat dibandingkan dengan keadaan dalam beberapa bulan terakhir yang biasanya berada di Rp 9.700/dolar AS. Penguatan rupiah tak selalu disambut dengan sukacita atau perasaan lega. Sejumlah pihak mulai mengkhawatirkan penguatan nilai tukar mata uang kita itu, karena terjadi secara cepat. Penguatan yang terlalu cepat juga bisa diartikan sebagai suatu keadaan instabil. Dan dalam konteks inilah, orang akan merasa waswas, karena perubahan cepat yang sebaliknya pun bisa terjadi. Dalam hal kurs mata uang, rupanya stabilitas lebih penting katimbang besar kurs, kendati ancar-ancar posisi yang baik tetaplah ada. - Wakil Presiden Jusuf Kalla memperkirakan posisi ideal adalah Rp 9.800/dolar AS. Orang awam akan bertanya-tanya mengapa sebesar itu dan bukankah posisi yang mendekati Rp 10.000/dolar AS itu relatif rendah. Sebenarnya tidak juga, sebab RAPBN kita mematok pada posisi antara Rp 9.500/dolar AS dan Rp 10.000/dolar AS. Lebih kuat atau lebih rendah dari itu justru diperkirakan terjadi sesuatu atau menunjukkan situasi yang labil dan tidak permanen. Seperti penguatan rupiah sekarang, itu terjadi karena banyak arus modal asing yang masuk. Dan arus modal itu bersifat jangka pendek, bukan dalam bentuk investasi jangka panjang. Akibatnya mudah diduga, kurs rupiah bisa merosot kembali setelah ada reaksi atau perubahan-perubahan lain yang memengaruhi pasar uang. - Jadi, dengan penguatan rupiah saat ini, tetap dibutuhkan intervensi otoritas moneter untuk menetralkan kembali. Intervensi tidak hanya dibutuhkan pada saat rupiah melemah dengan menggelontorkan dolar ke pasar uang, namun juga ketika rupiah menguat pun diperlukan kendati kurang lazim. Begitulah kondisi pasar uang yang selalu labil dan membutuhkan perhatian. Kendali penting karena dampak dari kondisi dan perkembangan rupiah sangat besar bagi perekonomian secara makro dan individual. Katakanlah sekarang dolar melemah dan rupiah menguat, itu adalah kabar buruk bagi eksporter, karena pendapatannya dalam rupiah akan menurun. Sebaliknya, kalau dolar terlalu kuat, importer akan menjerit dan kondisi pasar akan lesu. - Kurs haruslah dijaga agar proporsional. Pelaku pasar uang George Soros di Jakarta baru-baru ini mengakui pada waktu terjadi krisis moneter pertengahan tahun 1997, kurs rupiah memang tidak rasional, dengan demikian mudah digoyahkan. Hal itu berbeda dari ringgit Malaysia atau yuan China. Kalau kurs sudah berada pada level yang realistis dalam arti menggambarkan keadaan yang senyatanya tanpa ditopang oleh apa pun, biasanya relatif kuat. Tidak mudah digoyang. Paling hanya naik-turun sedikit dan itulah yang diinginkan oleh para pelaku ekonomi. Dengan kurs yang relatif stabil perencanaan bisa lebih mudah dibuat dan pelaksanaannya pun tidak mengalami banyak gangguan. Sebaliknya, kurs yang terus bergoyang akan menyulitkan. - Tidak keliru bila dikatakan mengendalikan rupiah itu gampang-gampang susah. Logika awam sering keliru. Masih ada yang beranggapan rupiah bisa dikembalikan atau setidak-tidaknya diupayakan mendekati posisi seperti dahulu sebelum krisis. Anggapan itu jelas salah. Selain karena dulu tidak realistis, perubahan kurs rupiah baik itu kenaikan maupun penurunan justru menjadi ancaman bagi perekonomian. Akan lebih baik dijaga pada kisaran yang aman. Kalau sekarang, menurut perkiraan pemerintah antara Rp 9.500/dolar AS - Rp 10.000/dolar AS. Tidak ada masalah bila semua bisa menyesuaikan. Angka itu didapat dari sebuah kompromi, yakni bagaimana menjaga kepentingan eksporter di satu sisi dan kepentingan importer di sisi yang lain. - Lebih penting dari semua itu adalah nilai sebuah kepercayaan. Ketika arus modal asing mulai masuk dan itu berakibat penguatan rupiah, semua itu merupakan fenomena positif, meskipun baru bersifat jangka pendek. Dari sanalah kita terus berupaya agar kepercayaan pasar selalu terjaga dan pada gilirannya investasi serta arus modal jangka menengah dan panjang pun bisa masuk. Karena dampak nyata barulah dirasakan ketika investasi diwujudkan secara langsung melalui kegiatan di sektor riil. Selain lapangan kerja meningkat, produktivitas pun naik. Inilah kekuatan sebenarnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Selama ini pertumbuhan banyak ditopang oleh pengeluaran konsumsi masyarakat. Itu belum aman dan karena itu perlu diimbangi sektor produksi. |