| Sabtu, 14 Januari 2006 | WACANA |
tajuk rencanaSikap Oposan PDI Perjuangan- Peringatan ulang tahun PDI Perjuangan ke-33 ditandai berbagai kegiatan dan diwarnai suara-suara kritis yang ditujukan kepada pemerintah. Ketua umum partai itu, yang juga mantan presiden, Megawati Soekarnoputri, mengecam kebijakan impor beras yang dinilai akan memukul petani yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Partai itu juga mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla memenuhi janji-janjinya pada saat kampanye. Pemerintah dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil. Hal itu terbukti dengan kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mengkibatkan kenaikan harga-harga barang dan jasa secara tajam. Apa yang sedang dimainkan oleh Megawati dengan partainya, PDI Perjuangan? - Dalam konteks perpolitikan sekarang, partai berlambang banteng mencereng itu menjadi partai yang jelas-jelas berseberangan dengan pemerintah. Sejak kekalahannya dalam pemilihan presiden, tidak ada pilihan yang lebih baik selain berada di luar. PDI Perjuangan pun tak punya ''wakil'' di Kabinet Indonesia Bersatu. Meskipun partai-partai lain tak pernah secara resmi diminta duduk di kabinet, beberapa figur menteri boleh dikatakan suda mewakili partai-partai politik kecuali PDI Perjuangan. Memang tidak ada istilah partai pemerintah, namun harus diakui kebanyakan partai itu telah nyata-nyata mendukung pemerintah. Termasuk Partai Golkar yang jelas-jelas berubah sikap sejak ketua umumnya dipegang oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. - Sikap oposan PDI Perjuangan menjadi sesuatu yang bernilai karena relatif hanya kekuatan itulah yang diharapkan mampu menjadi pengimbang sehingga terjadi mekanisme check and balance. Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), dan beberapa partai lain menyatakan diri tetap sebagai pengkritik yang loyal. Tak semua kebijakan pemerintah diterima begitu saja. Meski demikian, mereka masih tetap ada kaitan lebih erat dengan pemerintah. Masih diakomodasikan dalam penyusunan kabinet sehingga secara moral tetaplah tak mungkin berada pada posisi persis berseberangan. Lain halnya dengan PDI Perjuangan yang sampai sekarang terasa masih menjaga jarak dengan pemerintahan SBY-Kalla meskipun mereka juga tak memiliki kekuatan yang mampu mengimbangi di parlemen. - Apa yang bisa diharapkan dari sikap oposisi semacam ini? Orang yang paham teori ataupun praktik politik dalam sistem presidensial akan menganggap oposisi seperti itu tak lebih sebagai kekuatan moral. Salah-salah orang akan menganggap sebagai bagian dari kampanye awal menuju pemilihan umum berikutnya pada 2009. Apalagi sekarang momentumnya tetap ada mengingat tidak semua kebijakan pemerintah diterima oleh rakyat. Dalam hal kenaikan harga BBM atau impor beras misalnya, pemerintah, khususnya SBY-Kalla, sebenarnya dirugikan dalam hal popularitas. Ketenaran ataupun tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan mereka pun, berdasarkan hasil survei, mengalami penurunan. Partai oposisi mestinya bisa mengambil keuntungan politik dari situasi ini. - Namun hal itu pun tak mudah. Apa artinya suara keras dan kritis tanpa ada kebijakan alternatif yang ditawarkan. Dalam hal kenaikan harga BBM, adakah langkah alternatif yang dapat ditempuh dan bagaimana rumusan serta perhitungan konkretnya. Ketika muncul isu dan desakan reshuffle kabinet, mestinya partai oposisi juga bisa menawarkan figur alternatif. Tanpa semua itu maka sikap oposan belum akan dapat menemukan jalan atau bisa dikatakan efektif. Apa targetnya? Kalau tak mampu mendesakkan perubahan kebijakan atau penggantian figur menteri maka sama halnya dengan sekadar menyatakan sikap beda tetapi tak berdaya apa-apa. Dan orang pun akan mengatakan, coba kalau mereka yang berada di pemerintahan, mungkin akan sama saja. - Meskipun sikap oposan PDI Perjuangan belum dapat diharapkan memberi kontribusi langsung, tetaplah diperlukan. Minimal sebagai pengimbang kendati bisa saja tidak diperhitungkan karena ketika berada di parlemen, kekuatan pemerintah masih mutlak tak terkalahkan. Peran dan posisi partai oposisi belum bisa diharapkan seperti partai opisisi penuh pada sistem politik parlementer di negara-negara Barat. Perubahan perimbangan kekuatan politik sulit terjadi ketika komposisi kabinet masih seperti sekarang. Jadi, munculnya sikap oposan tak lebih dari upaya perjuangan politik yang lebih diharapkan manfaatnya dari popularitas politik belaka. Bisa jadi PDI Perjuangan tidak akan sendirian mendekati 2009. Apalagi kalau pemerintahan dianggap kurang berhasil. Banyak partai yang akan mulai menjaga jarak dan turut mengkritik pemerintah. |