| Sabtu, 14 Januari 2006 | NASIONAL |
Dari Pengungsian Longsor Banjarnegara (3-Habis)Hanya Duduk-duduk sambil Menanti Jatah Makan
BENCANA tanah longsor di Dusun Gunungraja, Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara masih menyisakan kepedihan di hati warga dusun di lereng Bukit Pawinihan itu. Tak hanya rumah dan harta benda, orang-orang yang mereka cintai pun telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Kini mereka tinggal di pengungsian dan rumah-rumah penduduk. Hari-hari yang mereka lalui teramat berbeda dari hari-hari sebelum musibah itu datang. Orang tua dan dewasa yang biasa bekerja dan beraktivitas di kebun dan sawah, kini hanya duduk-duduk di tempat pengungsian sembari menunggu jatah makan. Sebagian dari mereka masih belum pulih dari trauma bencana yang menghancurkan dusunnya. Sementara itu 102 anak-anak (menurut data Satlak PBP), kini menghadapi masalah masa depan. Sebagian dari mereka kehilangan sanak saudara dan orang tua. Mereka bingung bagaimana caranya untuk melanjutkan hidup. Kini, tak ada lagi yang membiayai hidup dan juga sekolah mereka. Sementara itu, yang masih mempunyai orang tua belum tahu bagaimana mereka akan melanjutkan sekolah. Sebab, gedung sekolah tempat mereka belajar selama ini telah hancur. Demikian pula dengan seragam sekolah, buku-buku, dan alat-alat tulis mereka. Semua terkubur bersama rumah, sanak saudara, dan teman-temannya. ''Ibu saya ditemukan hari pertama (Rabu, 4/1), bapak ditemukan pada hari kedua (Kamis, 5/1), sedangkan dua orang kakak saya ditemukan pada hari ketiga (Jumat, 6/1). Semua sudah meninggal. Sekarang saya di pengungsian ini bersama mbah kakung,'' tutur Ahmadi (15). Bocah laki-laki yang sejak lulus SD tak melanjutkan sekolah lantaran orang tuanya tak kuasa membiayai itu masih bingung saat ditanya tentang rencananya setelah pindah ke penampungan sementara. Meski lama tak bersekolah dan terbiasa mencari rumput untuk kambing-kambingnya, masih terbesit keinginannya untuk melanjutkan studi. ''Kalau sekolah lagi tidak bisa, ya kalau bisa saya mau memelihara kambing saja agar cepat mendapatkan uang,'' ungkapnya saat ditemui di tempat pengungsian SDN Sijeruk. Ketegaran bocah yang taat beribadah itu terlihat saat dia dengan lancar menjawab semua pertanyaan Suara Merdeka. Dia menuturkan, tak pernah lupa mendoakan kedua orang tua dan kakak-kakaknya agar bahagia di alam baka. Doa itu dia panjatkan selepas menunaikan shalat magrib di masjid Desa Sijeruk. Ahmadi memang tak sendirian. Masih banyak anak-anak yang senasib dengannya, sama-sama kehilangan kedua orang tuanya. Antara lain Widi (9) yang masih dirawat di RSUD Banjarnegara, Sutirah (15), Daryati (15), dan Haryati (15). Daryati dan Haryati, saudara sepupu itu, masih bersekolah di MTs Sijeruk. Mereka duduk di kelas III dan tengah bersiap-siap untuk meneruskan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Namun, rencana itu hancur begitu saja ketika Bukit Pawinihan tiba-tiba runtuh dan menimpa rumah serta orang-orang yang mereka cintai. Kini, mereka bingung harus melanjutkan sekolah ke mana dan siapa yang kelak akan membiayai. Mereka banyak yang masih enggan menjawab sejumlah pertanyaan tentang bencana yang menorehkan luka dalam hatinya. Wajah-wajah mereka masih lusuh serupa dengan baju yang mereka kenakan. Sementara itu, Widi (9) yang dirawat di RSUD juga mengalami nasib serupa. Siswa kelas II SDN Kalilunjar itu belum tahu, kedua orang tuanya, Sabar dan Gomil, telah meninggal karena rumah mereka tertimbun longsoran tanah. Beruntung Widi masih bisa diselamatkan oleh warga dan segera dilarikan oleh tim evakuasi ke rumah sakit. Karena luka-luka yang parah di kaki dan kepalanya, dia harus mendapat sejumlah jahitan. Dia pun tak sadarkan diri. Sementara itu bibinya, Tursiyah, yang menungguinya di rumah sakit, belum bisa memberitahukan keadaan orang tuanya Widi yang sesungguhnya. (M Syarif SW, Agus Wahyudi-14j) | ||||