| Sabtu, 14 Januari 2006 | NASIONAL |
Kesaksian Jamaah Indonesia''Kami Melihat Mayat Bergelimpangan''MAKKAH - Tim Sanitasi dan Surveilans (Sansur) Satgas Mina bergerak cepat mengumpulkan informasi, begitu menerima laporan ada 90 orang dari Kloter 40 JKS asal Provinsi Lampung belum kembali dari pelontaran jamarat. Tim khawatir, jamaah asal Lampung itu ikut menjadi korban dalam kejadian desak-desakan di tempat pelontaran, Kamis (12/1). Namun hingga pukul 17.30 Waktu Arab Saudi (WAS), tim merasa sedikit lega karena sebagian besar anggota rombongan tiba di tendanya dengan selamat. Hanya tujuh orang yang belum kembali. Wartawan Suara Merdeka Muhammad Ali semalam melaporkan, petugas Sansur terus memantau intensif di lapangan ataupun setiap rumah sakit di sekitar Mina. Siang itu memang telah terjadi penumpukan massa di lantai atas Jamarat Ula. Sejak pagi jamaah terus mengalir ke tempat itu namun sebagian menahan diri untuk langsung melontar. Mereka menunggu waktu afdal, yaitu setelah jawal (tergelincirnya matahari/masuk waktu zuhur). Sementara itu, gelombang jamaah yang ingin melontar terus mengalir. Begitu waktu yang afdal itu tiba, mereka merangsek ke Jamarat Ula berebut untuk melempar jumrah. Karena dorongan yang kuat dari belakang, banyak yang jatuh dan terinjak-injak. Jamaah asal Lampung yang akan mengambil nafar awal pada saat itu juga bergerak mendekati jamarat tersebut. Menjelang tempat tujuan, rombongan terpaksa berhenti karena melihat mayat yang bergelimpangan. Rombongan berusaha bertahan dari dorongan orang di belakang. Karena desakan dan dorongan yang sangat kuat, rombongan pun terpencar dan tertindih jamaah lain dan menyelamatkan diri masing-masing dengan menaiki dinding pagar. Darmawati, paramedis dari Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), termasuk yang ikut tertindih dan terinjak-injak oleh jamaah lain. Dalam rangka menyelamatkan diri, anggota rombongan menginjak-nginjak jamaah haji dari negara lain yang sudah tergeletak. Aparat keamanan dikerahkan sesaat setelah kejadian. Banyak ambulans dan kontainer berdatangan untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit Muaisim. Hingga Jumat sore kemarin, lokasi jamarat sudah bersih dari korban tetapi masih banyak ambulans disiagakan. Selain itu, di tiap tugu jamarat disediakan 12 ambulans. Itu belum lagi yang di jalan raya. Aparat yang berseragam doreng juga masih bersiaga. Sore sehabis kejadian, lokasi jamarat kotor sekali. Sandal dapat ditemui di mana-mana. Botol-botol minuman, kain ihram, sisa-sisa makanan, dan kantong-kantong plastik berserakan. Jamaah yang mendirikan tenda-tenda di tepi jalan telah membongkarnya. Karena mengambil nafar awal, ikut andil dalam meninggalkan sampah. Setelah diidentifikasi hingga Kamis malam, tercatatjumlah korban 358 orang dengan perincian 205 laki-laki dan 153 perempuan. Kepala Satuan Operasional Arafah-Mina Sukisman Azmi menuturkan, dari jumlah itu terdapat dua korban dari Indonesia, yaitu Satimin bin Ngadirejo (67) dari Kloter 40 JKS asal Lampung dan Rospita Rizal (40), istri Rizal, staf KBRI Brunei Darussalam. Korban terbanyak berkebangsaan Turki, Afrika, India, Pakistan, dan Bangladesh. Belum diperoleh perincian jumlah korban dari tiap-tiap negara. Elok Hikmawati Sementara itu, Manager Operasional Biro Haji PT Gazali Inti International Anis Zaki mengungkapkan, Ny Elok Hikmawati binti Akorahman (47) asal Semarang meninggal pada Selasa (10/1) karena sakit. ''Jadi, tidak benar kalau Ibu Elok meninggal saat melempar jumrah,'' tegasnya. Almarhumah yang ikut dalam rombongan biro miliknya itu dirawat di Wisma Haji Indonesia di Aziziah. Mendiang juga telah diikutsertakan dalam rombongan safari wukuf dan kemudian dilakukan doa bersama. (14j) |