logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 14 Januari 2006 KEDU & DIY
Line

Panen tetapi Harga Beras Melonjak

  • OP Belum Perlu

KEBUMEN - Meskipun saat ini di Kebumen telah mulai panen padi pada lahan sekitar 1.000 hektare dengan produksi beras sekitar 2.700 ton, harga beras di pasaran dan eceran terus melonjak.

Dari pemantauan di kios beras H Suroso Pasar Tumenggungan, semua jenis beras mengalami kenaikan harga sejak sepekan terakhir. Sebagai contoh, harga beras IR 64 yang banyak dikonsumsi semula Rp 3.700 per kilogram menjadi Rp 4.200/kg.

Beras cisedane yang banyak ditanam petani setempat, semula harganya Rp 3.200/kg naik menjadi Rp 4.000/kg. Sementara harga beras mentik dari Rp 4.000/kg menjadi Rp 4.500/kg. Demikian pula beras rojolele semula Rp 4.500/kg kini mencapai Rp 5.000/kg.

Namun di tingkat pengecer, harga beras naik lebih tajam. Di kampung-kampung seperti di Karangsari atau Wonoyoso, harga beras IR 64 yang termasuk paling murah sudah sampai Rp 4.500/kg. Bahkan di pedesan yang jauh dari pusat kota dan pasar kabupaten, harganya telah mendekati Rp 5.000/kg.

Menanggapi kenaikan harga beras tersebut, Bupati Kebumen Hj Rustriningsih meminta dinas terkait serta Bagian Perekonomian terus memantau dan mengantisipasi.

''Namun untuk melakukan operasi pasar (OP) tidak semudah itu. Banyak kriteria yang harus dipenuhi. Kami khawatir, jangan-jangan OP malah melegalisasi impor beras,'' ujar Bupati yang baru aktif setelah cuti tiga bulan.

Untungkan Petani

Di sisi lain, menurut Bupati, untuk menolak beras impor juga bukan hal mudah karena menjadi kebijakan Pusat, sedangkan Jateng selalu surplus pangan. Pemkab Kebumen berkomitmen memprioritaskan sektor pertanian sesuai visi dan misinya. Apalagi selama ini, daerahnya selalu surplus beras setiap tahun.

Kepala Dinas Pertanian H Subagiyo DS menjelaskan, berdasar data produksi selama 2005, Kebumen masih aman. Sebab dari produksi beras tahun lalu sebanyak 237.867.532 ton, dikonsumsi 140.486.781 ton atau terdapat surplus beras 97.380.752 ton.

Menurutnya, di bulan Januari 2006 di daerahnya sudah terdapat lahan panen sekitar 1.000 hektare padi, menghasilan beras kira-kira 2.700 ton. Artinya, stok beras tersebut cukup untuk kebutuhan konsumsi di Kebumen saat ini.

Pihaknya juga telah memantau persediaan pangan, khususnya beras di Pasar Tumenggungan dan di kecamatan-kecamatan. Sejauh ini, stok beras masih aman dan belum perlu dilakukan OP.

Subagiyo menjelaskan, dengan asumsi harga eceran tertinggi (HET) beras kelas Bulog adalah Rp 3.800 per kilogram, kenaikan harga beras terutama untuk jenis beras murah atau terendah sampai harga Rp 4.000 dan Rp 4.500 per kilogram, masih bisa ditoleransi.

Sebab, lanjut dia, salah satu syarat OP beras bila ada kenaikan harga beras sampai 25 persen di atas HET. Selain itu, kenaikan tersebut berlangsung hingga dua sampai tiga bulan. ''Kalau saat ini, kenaikan harga beras justru menguntungkan petani,'' jelas dia. (B3-16d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA