| Sabtu, 14 Januari 2006 | KEDU & DIY |
Kulit Sisa Dibuang SayangBARANG bekas, benda-benda tak terpakai lagi, selama ini dianggap sebagai kotoran tak berguna. Biasanya, langsung masuk ke tempat sampah atau dijual ke pemulung. Padahal sebenarnya, barang-barang bekas -apa pun bentuk dan jenisnya- masih bisa dimanfaatkan. Entah untuk suvenir, hiasan, maupun dialihfungsikan menjadi bentuk lain yang lebih bermanfaat. Namun sayang, tidak semua orang bisa melihat peluang seperti itu. Adalah Dukut Rahardjo, warga Minggiran, Sleman, Yogyakarta. Dia melihat potensi barang-barang bekas, terutama kulit-kulit sisa dari pabrik yang mengolah bahan tersebut, menjadi berbagai barang, pakaian maupun sepatu. Dia berpikir, kulit sisa tentu bermanfaat dan bisa menghasilkan tambahan penghasilan. Berbekal modal yang sudah dikumpulkan, dia pun lantas menampung kulit sisa di rumahnya. Mulailah Dukut mengotak-atik barang buangan itu menjadi sebuah topi koboi. Mirip di film-film laga, topinya berbentuk bulat dengan lingkaran di pinggirnya. Warnanya bermacam-macam. Maklum, karena warna kulit sisa juga beraneka ragam. Ada pula warna senada, kalau memang bahannya pas sebagai pelindung kepala ala Clint Easwood yang kerap membintangi film koboi. ''Sudah cukup lama usaha membuat topi dari kulit sisa ini. Warga di sini sudah membuatnya sejak 1975. Hasilnya ya lumayan, untuk menambah penghasilan,'' ujar Dukut yang menjahit sendiri topi-topi tersebut. Semula Dukut dan teman-temannya di Minggiran tidak pernah berpikir ke arah itu. Namun kalau sudah rezeki, tampaknya Yang Di Atas selalu memberi jalan. Awalnya ada seorang turis asing yang memesan topi anyaman berbentuk koboi. Warga manca itu memesan, karena sangat susah mendapatkan topi khas tersebut. Dari pengalaman itulah, usaha topi koboi dari kulit sisa dimulai. Limbah Pabrik ''Karena pesanan lebih banyak berbentuk anyaman, kami membuatnya juga dalam bentuk anyaman. Bahan untuk anyaman lebih mudah, tidak perlu kulit utuh, tapi dari limbah pabrik pun kami tampung,'' tutur Dukut. Selain menguntungkan para perajin, pabrik-pabrik bersangkutan juga tak perlu bersusah payah membuang limbah kulitnya. Mereka tinggal mengontak para perajin, atau perajin sendiri yang mendatangi pabrik untuk mendapatkan kulit sisa. Jadi, sama-sama diuntungkan; simbiosis mutulalisme, begitu kata orang. Risikonya, tentu saja para perajin harus memilah-milah kulit sisa yang masih bagus dan layak menjadi bahan baku. Tapi kini, kulit sisa agak susah juga diperoleh, karena pengusaha kulit lebih memilih mengekspor daripada membuat sendiri menjadi barang jadi. Kulit dengan panjang dan lebar memadai, lebih gampang diolah; sedangkan kulit dengan potongan lebih kecil, biasanya untuk sekadar tambahan saja. Namun bagi Dukut dan perajin lain, hal itu tidaklah menjadi kendala, karena mereka bisa mendesain dan memodifikasi potongan kulit menjadi sebuah topi bernilai seni, unik, dan menarik. ''Sehari kami menyelesaikan 20-40 topi, dengan harga Rp 7.000-Rp 10.000/buah. Sudah ada pedagang yang mengambilnya, dari Malioboro, Borobudur, dan Prambanan. Ada pula dari Jakarta, Bali, Kalimantan, Sumatera, dan daerah-daerah lain,'' ujar Dukut. (Agung PW-16a) |