logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 14 Januari 2006 KEDU & DIY
Line

Banyak Perusahaan Mi di Yogya Gulung Tikar

YOGYAKARTA- Merebaknya pemberitaan mengenai bahan pengawet formalin, satu sisi menguntungkan konsumen. Namun di sisi lain, membuat pengusaha mi di Yogyakarta kalang kabut. Bahkan, ada sebagian yang sudah gulung tikar alias bangkrut.

Sejak munculnya kasus tersebut, banyak pengusaha mi tidak berani produksi, karena tidak ada lagi konsumen yang membeli. Bangkrutnya perusahaan mi tersebut, membuat karyawan yang bekerja di perusahaan itu terancam kehilangan pekerjaan.

''Sejak dua minggu ini perusahaan saya sudah tidak beroperasi. Meski beroperasi, kalau tidak ada yang membeli tentu percuma dan akan membuat kerugian lebih besar,'' kata Ketua Paguyuban Mi Basah Mataram Indonesia (PAMBMI), Hani Purbonegoro, Kamis (12/1).

Menurut Hani, yang juga produsen mi Patangpuluhan, sebelum ada pemberitaan soal formalin, perusahaannya mampu memproduksi mi basah untuk bakso, mi ayam, dan mi rebus 800 kg-1 ton/hari. Ketika itu, kata dia, banyak para pedagang bakso dan mi ayam yang menjadi pelanggannya.

''Alasan mereka sederhana, kalau membeli dari tempat saya, mi itu bisa tahan empat sampai lima hari. Karena memang saya akui, mi yang saya buat menggunakan campuran formalin sebagai bahan pengawet. Tetapi itu yang disukai pelanggan. Sebab jika mereka menjual tidak habis, dapat dijual lagi keesokan harinya,'' kata Hani.

Tetapi setelah ada pemberitaan soal formalin, tutur Hani, semua anggota PAMBMI sepakat untuk tidak menggunakan bahan pengawet formalin. Mi basah yang diproduksi, kata dia, murni apa adanya tanpa bahan pengawet. ''Tetapi dengan tanpa pengawet ini, mi basah itu sudah rusak dalam waktu sehari. Para pelanggan tidak mau lagi membeli, karena umur mi basah hanya sehari. Mereka memilih membeli mi dari luar Yogyakarta. Akibatnya, kami terpaksa menghentikan produksi mi basah,'' paparnya.

Dia mengatakan, saat ini di Yogyakarta ada delapan perusahaan mi yang masuk menjadi anggota PAMBMI. Kapasitas produksinya mencapai tujuh ton setiap hari. Tenaga kerja yang terserap dalam PAMBMI 200 orang. Yang membuat mereka heran, selama ini pengusaha mi ini merupakan binaan dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan DIY. Mestinya mereka tahu sejak lama kalau mi yang diproduksi mengunakan obat pengawet formalin. Tetapi anehnya selama ini mereka mendiamkan saja. Setelah sekarang ramai diperbincangkan, perusahaan mi tersebut dilarang tanpa memberi alternatif bahan pengawet yang lain.

Sementara ketika Suara Merdeka bincang-bincang dengan Sudarman, pedagang mi ayam di kawasan Purawisata, Jalan Brigjen Katamso dan Yanto, penjual bakso di Jalan Brigjen Katamso mengatakan, sejak maraknya pemberitaan mengenai bahan pengawet formalin, omzet penjualan mereka turun drastis. Sebelum ada isu formalin, menurut Yanto dan Sudarman, sehari bisa menjual hingga 100 mangkok. Tetapi sejak adanya isu formalin, penjualan mereka sekarang turun. (sgt-55s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA