| Sabtu, 14 Januari 2006 | EKONOMI |
Operator Minta Kompensasi Pengalihan Frekuensi
JAKARTA - Para operator meminta pemerintah memberikan kompensasi atas pengalihan penyelenggaraan telekomunikasi dari frekuensi 1900 Mhz ke 800 Mhz. Pengalihan tersebut, berkait dengan penggunaan frekuensi 2,1 Ghz untuk layanan 3G, dan frekuensi 1900 Mhz termasuk di dalamnya. ''Dalam kasus permintaan pindah, operator minta pemerintah wajib memberi kompensasi,'' papar Kepala Humas Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Departemen Komunikasi dan Informatika, Gatot S Dewa Broto, di Jakarta, kemarin. Menurut dia, permintaan kompensasi itu adalah salah satu hal yang disampaikan operator dalam menanggapi sosialisasi rancangan peraturan menteri tentang 3G. Dalam rancangan yang dipublikasikan akhir Desember lalu disebutkan, pemerintah tidak memberikan kompensasi dalam bentuk apa pun kepada penyelenggara atas pemindahan tersebut. Menanggapi permintaan itu, salah satu anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Koesmarihati, menegaskan pemerintah tidak akan memberikan kompensasi secara finansial. ''Pemerintah tidak memiliki uang untuk itu. Namun, pemerintah akan membantu kedua penyelenggara itu untuk mendapatkan tempat di frekuensi 800 Mhz agar pelanggan tidak terganggu,'' tuturnya. Dalam rancangan peraturan menteri itu disebutkan, operator diberi kesempatan selama enam bulan untuk bekerja sama dengan operator telekomunikasi pemegang frekuensi 800 Mhz. Saat ini, frekuensi tersebut digunakan oleh PT Bakrie Telecom dengan produk Esia dan Mobile-8 dengan produk Fren. Indosat telah menggandeng Bakrie Teelcom melalui konsep kerja sama operasi dan penggunaan jaringan [Mobile Virtual Network Operator (MVNO)]. Dengan demikian, pelanggan Indosat di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, akan menggunakan frekuensi 800 Mhz milik Esia secara bersama-sama. Lalu TelkomFlexi, masih menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Mobile-8. Lisensi 3G Tiga operator terbesar di Indonesia siap berebut lisensi generasi ketiga (3G), yang proses tendernya akan mulai dilakukan pada 16 Januari 2006. Pada tanggal tersebut, operator sudah dapat membeli dokumen tender seharga Rp 100 juta. PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Indonesian Satellite Corporation Tbk, dan PT Excelcomindo Pratama Tbk, sudah melakukan serangkaian uji coba untuk memenangi tender tersebut. ''Kami sudah siap, baik secara teknis maupun nonteknis. Secara teknis perseroan, telah mengadakan uji coba 3G pada Oktober tahun lalu di tiga tempat; Jakarta, Bandung, dan Bali. Secara nonteknis, perusahaan telah mempersiapkan berbagai dokumen yang diperlukan dalam tender seperti rencana penggunaan frekuensi itu. Bahkan, pembangunan jaringan 3G telah dimasukkan dalam rencana kerja perusahaan tahun ini, '' papar Kepala Komunikasi Perusahaan Excelcomindo, Ventura Elisawati. Ia menambahkan, bila dapat memenangi tender, Excelcomindo akan mengutamakan Jakarta, Bandung, dan Bali, untuk layanan 3G. "Baru kemudian bertahap ke daerah lain, sesuai dengan tingkat kebutuhan," katanya. Excelcomindo menggandeng Erricson untuk uji coba di Jakarta dan Bandung serta Huawei, ketika melakukan uji coba di Bali. "Jika menang (tender), kami akan follow up mereka," ujar Elisawati. Vice President Public Relations Indosat, Adita Irawati, mengatakan, perseroan sudah lama mempersiapkan diri untuk mengikuti tender 3G, termasuk melakukan uji coba di Jakarta dan Surabaya pada Agustus 2005. Manajer Hubungan Masyarakat Telkomsel, Suryo Hadiyanto, juga menyatakan kesiapannya. Dari segi infrastruktur, Telkomsel telah melakukan uji coba layanan 3G sejak Mei 2005 di Jakarta, Surabaya, dan Batam. Menurut dia, pelanggan Telkomsel yang sudah menggunakan layanan GPRS sebanyak tiga juta orang, diperkirakan juga siap menjadi pelanggan layanan 3G. Pemerintah sampai kemarin belum menetapkan nilai dasar penawaran awal dari setiap blok pita frekuensi 2X5 Mhz pada pita frekuensi radio 2,1 Ghz yang dialokasikan untuk layanan 3G. Spektrum yang akan ditenderkan tiga blok, masing-masing 2x5 Mhz.(bn-59a) |