logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 14 Januari 2006 EKONOMI
Line

800.000 Rumah Tangga Miskin Tak Dapat Jatah Raskin

SEMARANG-Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) Jateng, Rumah Tangga Miskin (RTM) di Jateng tercatat seba nyak 2.708.664 jiwa. Dari jumlah itu, ternyata hanya 1.892.154 RTM yang akan memperoleh alokasi raskin (beras untuk masyarakat miskin-Red).

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang menggunakan data dari BKKBN (berdasarkan jumlah kepala keluarga prasejahtera), alokasi raskin tahun ini menggunakan data dari BPS. Aturan alokasi raskin secara nasional juga mengalami perubahan, bila sebelumnya untuk jangka waktu selama 12 bulan, kini setiap RTM akan memperoleh raskin maksimal 15 kg untuk selama 10 bulan.

Kepala Divre Perum Bulog Jateng, Drs Sutono MSi, mengatakan hal itu kepada para wartawan di kantornya, kemarin.

Dia mengungkapkan, jumlah alokasi raskin untuk wilayah Jateng akan mengalami penurunan sebanyak 60.000 ton, dari 343.000 ton menjadi 283.000 ton. "Penurunan itu diakibatkan kemampuan pemerintah yang terbatas. Untuk harga beras raskin tidak akan mengalami perubahan, tetap Rp 1.000/kg," katanya.

Disinggung mengenai kenaikan harga beras di pasaran saat ini hingga mencapai Rp 4.000/kg (jenis IR 64/beras kelas medium), Sutono menjelaskan itu disebabkan langkanya pasokan beras akibat musim paceklik yang selalu terjadi pada Desember dan Januari. Selain itu faktor cuaca (hujan) juga mendorong langkanya pasokan, karena panen gabah membutuhkan sinar matahari untuk proses pengeringan.

Operasi Pasar

Terkait gencarnya tuntutan operasi pasar (OP), dia menjelaskan hingga kini memang sudah ada enam kabupaten atau kota yang resmi mengajukan permintaan OP. Yaitu Rembang, Pati, Blora, Banyumas, Wonogiri, dan satu daerah lagi masih berupa imbauan melalui DPRD".

Pelaksaan OP dilakukan berkoordinasi dengan Pemda setempat. Sesuai dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 22/2005, untuk Divre Perum Bulog berkoordinasi dengan pemerintah provinsi (Pemprov). Sedangkan Sub Divre dengan pemerintah kabupaten/kota.

"Pemda akan menentukan berapa harga beras, lokasi, dan HET (harga eceran tertinggi)," tandasnya.

Dia mencontohkan untuk OP di wilayah DKI Jaya, beras dijual dengan harga Rp 3.800/kg. Harga itu terdiri atas Rp 3.550 (harga beras dari gudang Bulog) ditambah ongkos angkut, biaya susut, pembungkus, dan margin penjual (penjual yang ditugaskan Bulog).

Untuk harga OP di Jateng, dia belum bisa memastikan. Namun kisarannya antara Rp 3.550/kg hingga di bawah Rp 3.800/kg (harus lebih rendah dari DKI Jaya). Bisa juga, beras akan dijual dalam bentuk paket, misalnya Rp 5.000 untuk kemasan sekian kilogram," jawabnya.

Sutono mengungkapkan, pengadaan beras Bulog secara nasional pada 2006 sebanyak 2,2 juta ton, sedangkan untuk Divre Jateng sebesar 585.000 ton GKG (gabah kering giling). Stok Perum Bulog Jateng per Senin (9/1) sebanyak 186.000 ton yang diperkirakan akan dapat bertahan hingga Juni 2006 dengan catatan tidak ada operasi pasar.(H10-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA