| Sabtu, 14 Januari 2006 | BANYUMAS |
Tanda-tanda Longsor Bisa DikenaliTANDA-tanda bencana alam, antara lain tanah longsor, sebenarnya bisa dikenali sebelum terjadi. Warga yang tinggal di sekitar lokasi bencana, seminggu sebelum kejadian, biasanya sudah melihat tanda-tanda itu. Namun kebanyakan tidak menyadari bahwa bencana akan segera datang. Bagaimana cara mengenali tanda-tanda itu, berikut petikan wawancara dengan Ir Ariono Purwanto MT, Kepala Seksi Konservasi dan Sumber Daya Air pada Dinas Pengairan dan Pertambangan Kabupaten Banyumas, kemarin. Apakah benar sebelum bencana datang, selalu ada warning atau tanda-tanda? Banyak tanda yang muncul sebelum terjadi musibah, misalnya tanah longsor. Biasanya di sekitar lokasi muncul mata air yang sebelumnya tidak pernah ada. Jika musim hujan biasanya air tergenang, menjelang bencana itu airnya langsung hilang. Ada juga tanda lainnya, contohnya terjadi rekahan tanah dan kerikil di lereng bukit berjatuhan. Berapa lama tenggang waktu antara kemunculan tanda-tanda dan bencana itu terjadi? Sulit diprediksi. Mungkin tanda itu muncul tapi tidak terjadi bencana, tetapi bisa pula musibah itu datang seminggu kemudian. Contohnya di Desa Cibangkong, Pekuncen. Tanah di situ retak sudah setahun lalu, tetapi sampai sekarang bencananya tidak kunjung muncul. Jadi, tidak ada yang bisa meramal berapa menit, jam, atau hari bencana itu akan datang setelah tanda-tandanya muncul. Apa yang harus dilakukan kalau sudah melihat tanda bencana itu? Warga yang tinggal di daerah lereng bukit atau di bawah perbuktikan jika melihat gejala alam seperti itu harus meningkatkan kewaspadaan, terutama kalau hujan terus mengguyur. Apakah Banyumas termasuk daerah rawan bencana longsor? Dilihat dari ilmu geologi, memang benar daerah kita rawan bencana tanah longsor. Ada 15 kecamatan yang memiliki struktur tanah rawan longsor. Daerah itu rawan karena kondisi geologisnya dan tidak bisa dihindari. Bagaimana kondisi tanah di Banyumas? Berdasarkan penelitian kondisi geologi di 15 kecamatan itu, terutama di perbukitan, struktur tanahnya labil. Daerah ini termasuk formasi halang, antara batu pasiran dan tanah lempung menyatu sehingga sering terjadi kembang susut. Bagian atas terdiri atas tanah, di bawahnya pasir, dan di bawahnya lagi berupa tanah lempung. Nah, tanah lempung itulah yang sangat berbahaya karena biasanya licin kalau terkena air. Jika curah hujan masih normal dan air tidak meresap sampai bagian lempung maka biasanya tidak terjadi bencana. Namun kalau curah hujan di atas normal dan meresap sampai ke tanah lempung, tanah di atasnya mudah sekali bergeser. Bencana itu terjadi di Somagede, Gumelar, dan Pekuncen. (Khoerudin Islam-27n) |