| Sabtu, 14 Januari 2006 | BANYUMAS |
Hilang, Bambu yang Dimasukkan RetakanRETAKAN tanah yang menimpa beberapa rumah di Dukuh Silenggak, Tlahab Kidul, Purbalingga sudah sangat mengkhawatirkan. Warga tidak mau ambil risiko untuk nekat tinggal di sana. Pergerakan tanah dalam sehari cukup cepat tetapi tidak terasa. Tahu-tahu sebagian lantai rumah ambles. "Malam ada getaran seperti gempa kecil. Paginya lantai di ruang tamu sudah retak dan sebagian miring. Jadi dalam sehari retakan itu terjadi sedikit demi sedikit dan tidak terasa. Hanya tiang penyangga atap yang berbunyi kretek-kretek," kata Sarjani, salah seorang warga. Lantai rumah Sarjani kini tidak lagi rata. Terlihat ada retakan memanjang dari dalam rumah keluar. Ruang tamu itu juga miring. Ia dan istrinya sudah mengemasi barang-barangnya untuk dibawa ke balai desa. "Saya takut tinggal di rumah lagi. Sewaktu-waktu rumah ambles," tuturnya. Miardjo, Kepala Desa Tlahab Kidul Miardjo menyebutkan tanah retak di dukuh itu sudah pernah terjadi puluhan tahun lalu. Bencana serupa terjadi lagi sejak akhir 2004 tetapi warga belum mau mengungsi. Ketika terjadi bencana longsor di Sijeruk, Banjarnegara, retakan tanah di Dukuh Silenggak makin menghebat. Saat itulah warga ketakutan. Apalagi setelah melihat tayangan berita di TV yang menggambarkan dahsyatnya akibat bencana tanah longsor. "Retakannya sangat menakutkan. Ada yang lebarnya sampai 1 m dengan kedalaman lebih dari 5 m. Warga pernah mencoba mengukur kedalaman retakan dengan memasukkan bambu panjang. Ternyata setelah dimasukkan ke dalam retakan bambu itu hilang dan belum menyentuh dasarnya," kata Miardjo. Terpencil Di Tlahab Kidul, Dukuh Silenggak adalah satu-satunya wilayah yang terpencil. Tidak ada akses jalan untuk kendaraan apa pun masuk ke sana. Untuk mencapai wilayah itu harus berjalan kaki melewati jalan tanah dari balai desa sejauh 3 km. Jika ingin berkendara maka harus memutar melewati Desa Gondang, Kecamatan Karangjambu. Kendaraan pun hanya bisa sampai Gondang. Setelah itu harus jalan kaki lewat jalan setapak mendaki sejauh 1 km. Jalan setapak itu diapit jurang dan tebing. Dukuh Silenggak dikelilingi hutan rakyat. Rumah-rumah berada di perbukitan yang lokasinya naik turun. Anak-anak harus menyeberangi sungai 4 kali jika berangkat sekolah ke Tlahab Kidul. Seorang pejabat yang meninjau Silenggak hampir tidak lagi kuat berjalan. Dia kemudian menawarkan imbalan. "Ayo, siapa yang mau gendong saya, nanti saya kasih Rp 100.000," katanya dengan nafas terengah-engah. Namun tidak ada yang menyanggupi karena yang lain juga merasa kepayahan.(Arief Noegroho-27) |