logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 14 Januari 2006 BANYUMAS
Line

Medi Angker, Cipto Jenaka

DUA pelukis senior Purwokerto, Medi PS dan Cipto Pratomo, yang memiliki corak dan gaya lukisan berbeda, pameran bersama. Mereka menggelar 40 karya lama dan baru di Galeri Oemah Seni Pereng Jalan Slamet Riyadi No 78 Purwokerto, sejak kemarin hingga 31 Januari.

Kurator pameran Handy Nuswanto Roes mengatakan, pameran itu untuk mengawali kegiatan seni rupa, khususnya seni lukis di Kabupaten Banyumas.

"Tujuannya adalah memotivasi para perupa agar selalu eksis dalam berkarya lewat berbagai media, sekaligus bisa dan mau menyosialisasi karyanya kepada masyarakat," tuturnya.

Kegiatan itu juga sebagai sarana apresiasi tentang seni lukis bagi masyarakat serta hiburan yang bersifat mendidik.

"Kami berharap anak-anak selama liburan sekolah mampir ke sini untuk melakukan apresiasi seni," ujar dia.

Handy berharap pameran semacam itu direncanakan dan diadakan tiap bulan menampilkan karya karya pelukis-pelukis di Banyumas.

Mulai Januari, Oemah Seni Pereng juga menyelenggarakan bimbingan melukis bagi anak-anak satu minggu dua kali, agar regenerasi kesenirupaan, khususnya seni lukis terpelihara.

Kali ini, Medi PS menampilkan lukisan ekspresionis dan surealisme berbagai tema antara lain flora, fauna, dan kehidupan manusia melalui media cat minyak.

"Saya mengambil tema itu, karena lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari," tutur Medi.

Dengan demikian, penjiwaan atas karya-karyanya bisa dirasakan oleh penikmat. Pelukis yang lebih dikenal bergaya ekspresionis itu menonjolkan warga merah, hitam, biru, dan kuning.

"Lukisan Medi cenderung menggunakan warga gelap, sehingga tampak angker," komentar pelukis Bungsu Mulyarto.

Berbagai Gaya

Sementara itu, Cipto Pratomo tampak ingin menunjukkan kepada publik bahwa dia mampu memainkan berbagai gaya.

Semua gayanya dalam melukis dipajang. Mulai naif, dekoratif, hingga kolase menggunakan beragam media seperti cat air, cat minyak, akrilik, spidol bahkan limbah, antara lain sepatu bekas.

Menurut Cipto, melukis itu tidak harus menggunakan material mahal, agar inspirasi atau ide yang timbul bisa terwujud segera serta tidak terhalang atau terhambat oleh media.

"Tujuan saya melukis agar para pemula termotivasi untuk berkarya tanpa ada ketergantungan. Melukis bagi setiap manusia adalah hal wajar dan bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, serta dengan media apa adanya," ujar guru SMP Negeri 5 Purwokerto itu.

Tema-tema yang digarap cenderung jenaka, yakni tentang kehidupan manusia, alam sekitar, serta dunia kanak-kanak.

"Lukisan Cipto seperti lukisan anak-anak," ujar penyair Edi Romadhon.

Pengunjung pameran tersebut bukan hanya dari Purwokerto, melainkan juga dari luar daerah, misalnya Tegal, Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta.

Sebagian besar berkomentar bahwa kegiatan seni rupa di daerah tidak kalah dari kota-kota besar atau Jakarta. Tinggal faktor publikasinya agar bisa lebih dikenal di tingkat nasional. (Khoerudin Islam-27s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA