logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 14 Januari 2006 BANYUMAS
Line

Tanah Perhutani Bergerak, Warga Cijati Mengungsi

CILACAP-Tanah milik Perhutani di Desa Cijati, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap siang kemarin bergerak lagi. Hal itu membuat panik warga di lingkungan Grumbul Cimanggu RT 5 RW 4 Desa Cijati.

Sebab, grumbul yang dihuni 293 jiwa itu berada persis di bawah lereng tanah Perhutani yang bergerak. Warga pun bergegas mengungsi ke Posko Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) yang didirikan sekitar 10 m dari Grumbul Cimanggu. Namun setelah lama tak lagi muncul tanda-tanda gerakan tanah warga kembali melanjutkan aktivitasnya.

Darwian, petugas Perhutani KRPH Pesahangan saat ditemui di PBP Desa Cijati mengatakan tanah Perhutani mulai longsor Jumat pekan lalu (6/1). Sebelum areal hutan yang ditanami pohon pinus itu longsor warga di Grumbul Cimanggu Desa Cijati terlebih dulu dikejutkan oleh gemuruh disertai suara keras mirip ledakan.

Tak lama setelah terdengar gemuruh tanah di lingkungan tersebut bergetar. Bersamaan dengan itu tanah Perhutani di atas permukiman penduduk longsor.

Namun longsoran hanya menimpa lahan milik warga dan tidak sampai menimpa rumah penduduk. Luas tanah Perhutani yang longsor sekitar 0,25 ha.

''Di sekitar lokasi tanah yang longsor banyak ditemukan retakan. Retakan di tebing sebelah timur sepanjang 300 m, retakan di tebing sebelah utara 200 m, dan di tebing sebelah barat 100 m. Tanah di bagian bawah retakan bergeser 1 m lebih,'' jelas Darwian.

Anggota RAPI Majenang Sutaryo yang diperbantukan di Posko PBP Cijati menambahkan ketika tanah Perhutani bergerak pohon picung atau kluwek yang semula masih berdiri tegak lalu miring hingga 70 derajat. Pohon itu tumbuh di sekitar lokasi tanah yang longsor.

''Itu berarti tanah di lokasi tersebut telah bergeser lagi. Kami yang berada di Posko PBP langsung memberikan peringatan kepada warga melalui pengeras suara. Warga segera menghindar dan berkumpul di posko,'' tuturnya.

Di bawah tanah Perhutani yang longsor ada tanah milik warga yang juga longsor. Lokasi tanah yang longsor ke rumah penduduk terdekat hanya berjarak 100 m.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan warga sudah menitipkan harta benda mereka ke rumah warga yang berada di lokasi yang aman.

Tapi ada juga warga yang mengungsi sekaligus memboyong harta bendanya ke rumah sanak saudaranya. Pada malam hari semua rumah di Grumbul Cimanggu RT 5 RW 4 Desa Cijati dikosongkan. Terlebih kalau turun hujan. Namun di situ tetap ada anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas, dulu Hansip-Red) yang berjaga.

Komandan Peleton Linmas Desa Cijati Taryudin selaku Ketua Taruna Siaga Bencana mengatakan jumlah rumah di wilayah RT 5 RW 4 yang terancam kena longsoran ada 87. Ke-87 rumah tersebut dihuni oleh 97 kepala keluarga (KK) yang terdiri atas 293 jiwa.

Dari 87 rumah itu yang posisinya berada di daerah bahaya I ada 24. Letak 24 rumah itu berada di bawah lereng yang telah retak-retak. Namun secara umum semua rumah rumah di RT 5 RW 4 terancam karena luas areal Perhutani yang rawan longsor dan sudah retak-retak 3 ha lebih.

''Setiap turun hujan tim yang bertugas di posko langsung memberi peringatan sekaligus memerintahkan warga untuk menghindar. Peringatan disampaikan melalui dua pengeras suara. Begitu ada peringatan warga bergegas menuju posko,'' kata Taryudin.(ag-27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA