| Minggu, 08 Januari 2006 | OLAHRAGA |
Gustavo Hernan OrtizReuni dengan de PorrasBERMAIN lagi dengan Emmanuel de Porras merupakan keinginan lama Gustavo Hernan Ortiz selepas dibuang Persija Jakarta di Kompetisi Liga Indonesia (KLI) X. Sayang di KLI XI keinginan tersebut tidak bisa terwujud. Porras membela PSIS, sedangkan pemain kelahiran Buenos Aires 10 Oktober 1977 itu hijrah ke PSPS Pekanbaru. Di putaran kedua Ortiz menyeberang lagi ke Persita Tangerang. Setelah semusim berpisah mereka disatukan lagi pada kompetisi tahun ini. Manajemen PSIS-lah yang punya andil besar mempersatukan keduanya untuk membela Tim Mahesa Jenar. "Tentu saya senang bisa kembali bermain dengan Porras. Itu sudah lama saya nantikan," ungkap Ortiz. Suami Sabrina itu mengakui Porraslah yang terus mendorong untuk bergabung dengan tim kebanggaan warga Kota Semarang. Apalagi selama ini tim-tim lain, misalnya Persita, Persikota, PSPS, dan Persija yang pernah dibela belum menghubungi lagi. Karena itulah, ketika ada tawaran dari PSIS bapak Tomas Ortiz tersebut langsung setuju. Apalagi Porras masih memperkuat skuad yang kini dilatih Sutan Harhara. "Saya dan Porras terus kontak melalui telepon saat berada di Argentina. Dia banyak memberi informasi tentang tim ini (PSIS-Red). Itu yang membuat saya tertarik. Apalagi dia (Porras) masih di tim ini," jelasnya. Reuni tersebut membangkitkan kenangan manis ketika mereka membela Macan Kemayoran tahun 2004. Keduanya mengantar Persija meraih gelar juara di Piala Emas Bang Yos. Mungkin kenangan indah tersebut juga memotivasi untuk mempersembahkan gelar bagi Mahesa Jenar di musim ini. Pelayan Di tim kebanggaan Kota Atlas Ortiz tidak lagi akan asing pada gaya bermain Porras. Saat di Persija peran pemain berambut gondrong itu lebih sebagai pelayan Cachi sapaan akrab Porras. Itu tidak mengherankan mengingat Ortiz punya tendangan keras dan umpan akurat. Tentu hal tersebut akan memanjakan Cachi yang beroperasi di lini depan. Sebagaimana kebanyakan pemain Amerika Latin pemilik tinggi badan 170 cm itu memiliki skill di atas rata-rata, cerdik, dan cepat. Tak mengherankan jika dibiarkan mengolah si kulit bundar masuk kotak penalti tanpa pengawalan ketat maka aksinya sangat membahayakan gawang lawan. Ortiz menilai PSIS tim bagus. Buktinya, bisa meraih juara III di turnamen Piala Emas Bang Yos III awal Desember lalu. Sebelumnya, pada Kompetisi Liga Indonesia 2005 lalu Indriyanto Nugroho dan kawan-kawan juga meraih juara III. Selain materi pemainnya cukup baik karena ada beberapa anggota tim nasional U-23, menurut dia, suporter Mahesa Jenar terkenal fanatik dan pengurusnya mengutamakan kekeluargaan. Melihat suasana tim yang kondusif tersebut Ortiz ingin sekali membawa Mahesa Jenar menjadi juara Liga Indonesia 2006. Namun itu harus didukung oleh semua pihak. Bukan hanya pemain, melainkan juga pengurus, manajemen, dan suporter. "Semua orang di sini (Semarang) pasti ingin PSIS juara. Kini kami dalam persiapan. Kami akan berusaha mengantar tim ini menjadi juara," tandasnya. (Budi Winarto-27) |