| Minggu, 08 Januari 2006 | OLAHRAGA |
Kematangan sang KomposerOleh: Amir Machmud NSKETIKA klub-klub besar mengimpikan memiliki seorang Frank Lampard, apakah artinya? Ya, gelandang tim nasional Inggris dan "nyawa" Chelsea ini sesungguhnya telah tercetak dengan garis tebal. Bahkan sangat tebal. Lewat sebuah polling, pendukung Real Madrid jelas-jelas menyatakan ketertarikan, padahal El Real masih memiliki Zidane, Beckham, dan Guti. Pengakuan kehebatan Lampard tak hanya terbaca lewat impian Madridistas. Keterpilihan sebagai Pemain Terbaik Dunia 2005 nomor 2 di bawah Ronaldinho dan di atas Samuel Eto'o menjadi bukti formal tak terbantah. Secara teknis ketiganya menjadi faktor determinan di klub masing-masing. Lampard bukan pemain atraktif dengan magnet selebritas seperti Beckham. Bukan pula sosok "panas" dengan "bla-bla-bla" ala Cantona, Cassano, atau Rooney. Juga bukan penyaji fantastista seperti Messi atau Robinho. Dia mewakili sosok gelandang "berguna" macam Scholes, Gerrard, atau Pirlo. Kalau performa sang dinamo itu dikaitkan dengan fokus Piala Dunia 2006, dia jelas bakal menjadi pesaing utama bagi Ronaldinho, figur "dewa baru" pengubah permainan selepas era Maradona. Arsitek Chelsea, Jose Mourinho memuji anak asuhannya itu sebagai gelandang terbaik dunia saat ini, dan statemen itulah yang diperkirakan bakal makin mengikat Lampard di Stamford Bridge. Dalam usia 27 dan performa yang sedang matang-matangnya, kecocokan atmosfer tentu menjadi pertimbangan terpenting. Apalagi secara pribadi, Mourinho dan Lampard telah bersimbiosis menjadi inti kekuatan bagi ambisi kekaisaran sepak bola Roman Abramovich. * * * TAK sedikit bintang yang menjadi pusat percaturan karena taburan kontroversi atau kisah-kisah seru di balik kegemerlapannya. Terakhir, misalnya Antonio Cassano, striker mbalela AS Roma yang kini bergabung ke Madrid. Carlos Tevez dan Lionel Messi, dua bakat terunggul Argentina yang sama-sama menyandang predikat "Next Maradona", atau Robinho si "Pele muda" yang sering memamerkan kemampuan aneh-aneh di luar "kamus sepak bola". Di antara mereka, siapa yang diakui sebagai "komposer" pengubah irama di sebuah pertandingan? Ronaldinho tentu "wajib" ditempatkan paling atas. Untuk melengkapi pencapaian luar biasanya sepanjang 2004-2005, di Jerman Juni-Juli mendatang dia akan membuktikan apakah sihirnya bersama Barcelona bisa ditransfer ke kostum Samba. Dalam kategori ini bisa dipasang nama Andreas Pirlo, jangkar Squadra Azzurra yang memiliki tendangan bebas paling sulit diantisipasi. Kalau "kebiasaan" mencetak gol untuk AC Milan itu bisa diusungnya ke tim Italia, dia jelas bakal mengancam keistimewaan Beckham dan Juninho. Untuk urusan pengaruh, kapten tuan rumah Jerman Michael Ballack menjadi pusat dari segala potensi upaya kebangkitan Tim Panser. Dia menjadi poros utama era Jerman masa kini. Dalam proyeksi seperti Ballack, kehadiran Zidane untuk Prancis juga membawa beban untuk "mengubah hasil". Dan, di luar pendekar-pendekar utama itu, Frank Lampard akan menjadi figur utama yang menyita perhatian, walaupun Inggris juga membawa Steven Gerrard, sosok yang di klubnya - Liverpool memiliki kemampuan setara. Juga ada Joe Cole, salah satu talenta dengan kemampuan dribling yang disebut-sebut mewarisi kehebatan "bad boy" Paul Gascoigne. Kalau empat tahun lalu para pemain ini sedang dalam proses pemekaran, Germany 2006 beruntung menjadi penyaksi persembahan kematangan mereka. Tidak diragukan lagi, jika proses recovery pascakompetisi liga-liga Eropa berlangsung mulus, tidak ada rongrongan cedera, dan para bintang ini membekali diri dengan spirit "haus tampil", itulah saat paling tepat untuk memestakan karya seni mereka. * * * MEMANG sangat sedikit pemain dengan konsistensi setara Lampard. Ketika pertama kali bergabung di markas The Blues, mungkin hanya Claudio Ranieri yang tahu persis mengapa membawa eks kapten Inggris U-21 yang "biasa-biasa saja" ini dari West Ham United. Tetapi waktu yang kemudian membuktikan, dan Jose Mourinholah yang kini menikmati pilihan Ranieri. Berbeda dari Gerrard dan Cole yang rentan cedera, praktis Lampard hanya beristirahat di satu pertandingan karena terserang flu, setelah terus menerus tampil dalam 164 partai! Bagi arsitek timnas Inggris Sven Goran-Eriksson, keponakan Harry Redknapp ini bukan hanya menjadi poros penyeimbang lini belakang dan tengah, tetapi juga komposer permainan yang bervisi. Dia melengkapi kehadiran dengan gol-gol melalui positioning tepat di depan gawang lawan, dan akurasi tembakan-tembakan dari lini kedua. Dari sisi pemanfaatan tendangan bebas, selain Beckham, Frank Lampard adalah senjata pamungkas bagi Inggris. Lebih penting dari semua itu, dia mewakili generasi pemain yang "berbicara" dengan kinerja, bukan karena "ledakan-ledakan" selebritas. Dia bisa dibandingkan dengan Paolo Maldini, sosok yang lebih memilih menjadi pekerja berdedikasi ketimbang menghadirkan diri dengan kapasitas lain di luar lapangan bola.(27) |