logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 08 Januari 2006 OLAHRAGA
Line

Patrick Vieira

Berjuta Sesal Arsenal

"KETIKA saya berbicara dengan David Dein dan menanyakan tentang adanya tawaran dari Juventus, saya sungguh kaget. Dein mengatakan bahwa Arsenal akan bersikap netral. Menerima atau menolak proposal Juventus diserahkan sepenuhnya kepada saya."

Patrick Vieira, eks gelandang jangkar Arsenal, mengungkapkan kegundahan hati yang disimpannya lama itu kepada Peter Bourne, redaktur senior majalah olahraga Italian Football, lima bulan setelah dia tiba di Delle Alpi, Turin, markas Juventus.

"Saya tidak mengerti posisi klub. Mereka tidak jujur dan terbuka tentang masa depan saya. Jika mereka ingin saya tetap tinggal di Highbury, mengapa Dein berkata begitu? Saya sudah sembilan musim bersama mereka dan selalu bekerja keras. Apa artinya klub bersikap netral?" tanya Vieira.

"Saya pikir, ungkapan Dein itu sama dengan akhir karier saya di Arsenal. Mereka sudah tidak ingin saya di sana. Semua sudah selesai. Itu sebabnya saya terima proposal Juventus."

Dein adalah Wakil Ketua Arsenal FC dan salah satu petinggi Football Association (FA) Inggris. Dia orang yang paling berpengaruh dalam urusan transfer pemain di Arsenal.

Karena itu, pada Agustus 2005, pergilah Patrick Vieira ke Delle Alpi. Sebuah kepergian seharga 13,7 juta poundsterling yang tidak disertai penyesalan dari kubu klub lamanya.

Tetapi kemudian terbukti, the Gunners harus membayar jauh lebih mahal dari itu, karena ternyata Viera tak tergantikan. Arsenal terseok-seok selama separo musim ini.

Jangankan untuk juara, bisa menerobos ke zona aman Liga Champions saja sudah sangat istimewa.

Sepanjang karier pelatih Arsene Wenger di Highbury, keterseokan Arsenal ini merupakan yang pertama sejak 1996.

Jose Antonio Reyes dkk kini tercecer 24 poin dari calon juara, Chelsea, saat musim sudah melewati angka 21 dari 38 yang harus dituntaskan. Mereka pun masih berada di luar jalur Liga Champions.

"Saya tidak akan mengatakan bahwa saya pemain penting di Arsenal. Tetapi Anda bisa menyaksikannya sekarang, mereka sangat membutuhkan saya. Saya tidak menyesal pergi ke Italia. Saya senang berada di klub ini, bersama pemain-pemain kelas dunia yang memiliki ambisi tinggi dan berkompetisi melawan klub-klub yang memiki karakter berbeda-beda," tegas pemain internasional Prancis yang "hanya" mempersembahkan 29 gol untuk Arsenal selama sembilan musim itu.

Vieira jelas tidak bermaksud sombong. Meski terlambat disadari oleh Wenger, dia adalah pemain paling penting di Highbury. Tanpa dia, kinerja lini tengah "si gudang peluru" itu bagai tanpa ruh. Serampangan dan tidak taktis, apalagi indah.

Setelah terus menghadapi masa sulit di Liga Premier musim ini, Wenger -yang terkenal selalu menjaga gengsi- baru kemudian bersedia mengakui bahwa kehilangan Patrick Viera ternyata melebihi dari apa yang pernah dibayangkannya sebelum ini.

"Strategi merupakan sebuah sistem. Jika salah satu bagian dari sistem itu hilang, kita tidak bisa berharap strategi akan berjalan baik. Saya pikir, Arsenal telah kehilangan sebagian dari sistem itu dengan perginya Patrick (Vieira). Dia pemain penting kami dan saya sungguh sangat kehilangan dia," sesal Wenger kepada Reuters, sesaat setelah timnya ditaklukkan Chelsea 0-2 di Highbury, awal Desember lalu.

Sebuah kekalahan yang merupakan tragedi, karena praktis membuat mereka harus membuang impian untuk merebut mahkota juara dari tangan Chelski.

Lahir di Dakar, Senegal -negara eks jajahan Prancis- pada 23 Juni 1976, Vieira adalah imigran jaminan mutu untuk lini tengah tim mana pun yang dibelanya.

Dia bukan hanya seorang gelandang, tapi juga pemain jangkar.

Vieira bisa bergerak ke mana-mana dan melakukan manuver mematikan lawan dengan gerak tipu indah, tanpa pernah melalaikan tugasnya sebagai pengatur ritme permainan.

Itu sebabnya Arsenal hingga kini kesulitan menemukan pengganti. Mereka memang memiliki talenta-talenta muda dari Spain and France Connections-nya Wenger seperti Francesc Fabregas, Mathieu Flamini, atau Gael Clinchy.

Namun dibanding Vieira, ketiga pemain muda penuh bakat itu jelas bukan apa-apanya.

Arsene Wenger tengah membidik Didier Zokora, gelandang asal Pantai Gading yang kini berkostum Saint Ettiene, Prancis. Tapi, kendati nanti Zokora terbeli, kedatangannya diyakini tak bakal bisa menyembuhkan "luka" di lini tengah Arsenal.

Vieira telah menjadi semacam "ruh" dalam sistem yang digarap Wenger selama hampir sembilan musim. Dan ketika ruh itu pergi, klub bisa dikatakan sudah "tanpa kehidupan" lagi.

Butuh waktu lama untuk membangunnya, dan yang pasti, tidak akan cukup dengan dana sebesar 13 juta poundsterling, harga untuk kepergian sang jangkar hitam itu ke Juventus.

Wenger kini mesti membayar lunas kebijakannya yang sembrono, sembari menunggu munculnya ruh lain di Highbury: tentu saja, jika ruh itu masih ada lagi. (Gunarso-40)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA