| Minggu, 08 Januari 2006 | NASIONAL |
Kisah Duka dari Bukit Pawinihan (4)Pernikahan pun Berlangsung di Pengungsian
RASA haru, sedih, pasrah bercampur senang, itulah perasaan yang kini berkecamuk di hati Mistem (23), anak pertama pasangan Sumedi (50) dengan Sureni (35) warga RT 5/RW 4 Dusun Gunungraja Desa Kendaga Kecamatan Banjarmangu Banjarnagera, yang bakal menghadapi hari bersejarah dalam hidupnya, menikah di lokasi pengungsian. Gadis berambut panjang ini, Selasa (10/1), bakal menjalani akad nikah dengan lelaki yang dicintainya, Sanen bin Achmadi (24), warga Desa Petir Kecamatan Mandiraja. Pernikahan pasangan muda ini tak akan berlangsung di rumahnya sendiri lantaran situasinya memang tidak memungkinkan. Warga satu dusun tersebut sejak Jumat (6/1) kemarin telah mengungsi beramai-ramai lantaran takut akan bahaya longsor susulan. Mereka telah mengungsi ke lokasi yang relatif aman, di Balai Desa Kendaga dan rumah-rumah penduduk atau sanak saudara yang dekat dengan jalan raya Banjarnegara-Karangkobar, menjauh dari daerah rawan bencana. Saat warga satu dusun itu eksodus besar-besaran, keluarga ini juga yang terakhir meninggalkan kampungnya. Awalnya, mereka ingin tetap bertahan. Namun karena warga yang lain sudah pindah dan perasaannya juga dihantui rasa takut yang sama, keputusan ikut mengungsi pun akhirnya diambil. Pernikahan mereka akan dilangsungkan di rumah adik Sumedi, Supriyanto (40) yang biasa disapa Samin warga RT 5/RW 1, yang kini juga sebagai tempat mengungsi sekeluarganya. Di rumah berukuran 6 x 10 meter yang masih beralaskan tanah dan berdinding papan kayu itu, juga akan menjadi saksi bisu pasangan ini dalam mengikat janji untuk mengawali bahtera kehidupan ke depan. "Saya nggak tahu bagaimana nanti. Semua saya serahkan ke bapak-ibu. Saya hanya pasrah," ujar Mistem malu-malu saat ditemui di rumah pamannya, kemarin. Keresahan hati gadis berkulit sawo matang ini bukan karena apa. Dia tak bisa membayangkan bagaimana kalau teman-teman dekatnya dan kerabat-kerabat keluarga orangtuanya ataupun tamu undangan lain yang diundang tidak bisa datang untuk memberikan doa restu, karena lokasi acara akad nikah dan syukuran dipindah. Padahal kehadiran mereka sangat diharapkan. "Sampai sekarang keluarga calon suami saya juga belum mengetahui kalau acaranya bakal dipindah. Paling sebelum hari H akan dikabari," ujarnya. Dalam situasi seperti itu, bayangan indahnya malam pertama nanti atau suka-cita orang-orang yang diundang saat syukuran berlangsung, juga masih jauh dari benak dan pikirannya. Apalagi bayangan merencanakan akan bulan madu ke mana, kelak setelah mereka resmi menjadi suami-istri yang sah. "Nggak kebayang itu. Saya masih bingung," keluhnya. Sebelum mereka pindah mengungsi, undangan sudah disebarluaskan ke tetangga-tetangga desa dan luar kecamatan. Undangannya yang sudah tersebar memang tak terlalu banyak, hanya sekitar 150 lembar. Adapun untuk tetangga satu desa cukup dengan getok tular saja. Sejauh ini mereka belum tahu bagaimana cara meralat lokasi pernikahan yang dipindah kepada tamu undangan yang bakal diundang. Di tengah kekalutan itu, keluarganya juga harus berhitung dengan waktu untuk persiapannya. Persiapan pernikahan yang bakal berlangsung di rumah Samin, juga baru dimulai kemarin (7/1). Segala barang-barang yang dibutuhkan terpaksa diangkut dari rumahnya dan dibawa juga ke tempat mengungsi. Termasuk gaun pengantin sederhana yang sudah disewa dari tukang rias di tetangga desa mereka. Jarak rumah dengan lokasi pengungsiannya sekitar 5 km dengan medan berat naik turun bukit. Tetangganya yang saat mempersiapkan di rumahnya juga telah memulai membantu, kini juga tengah sibuk dengan urusan masing-masing di lokasi pengungsian. Diungkapkan Sumedi, sebelum mengungsi, sebenarnya segala persiapan sudah matang kalau itu nanti dilakukan di rumahnya sendiri. Rumah sederhana mereka juga sudah ditata dan dicat warna putih agar tampak terang dan bersih. Mereka juga sudah berbelanja dan menyiapkan segala kebutuhan lain. Rencana semula, acara syukuran sebelum puncak acara akad nikah dilangsungkan, akan dimulai dua hari, sejak Minggu-Senin (8-9/1). Pihak desa juga sudah memberi izin jauh hari sebelumnya. Termasuk persiapan kelengkapan administrasi untuk persyaratan menikah. (Agus Wahyudi, Rukardi, M Syarif SW, Fahmi ZM-41v) | ||||