| Minggu, 08 Januari 2006 | NASIONAL |
Keluarga Minta Evakuasi Dilanjutkan
BANJARNEGARA-Proses evakuasi korban bencana tanah longsor di Dusun Gunungraja, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara yang sedianya akan dihentikan Sabtu (7/1) kemarin, akhirnya diperpanjang hingga hari ini. Itu dilakukan karena dimungkinkan korban yang masih tertimbun tetap bisa dikenali. Selain itu, sejumlah anggota keluarga korban yang hilang atau belum diketemukan meminta evakuasi dilanjutkan minimal satu-dua hari lagi. Ketua Satlak PBP Kabupaten Banjarnegara Hadi Supeno menyatakan, proses evakuasi akan diperpanjang dengan harapan bisa menemukan jenazah korban tanah longsor yang masih bisa dikenali. Hal ini, kata dia, didasarkan pada kenyataan masih banyak jenazah yang berhasil diidentifikasi meskipun telah lama terkubur longsoran tanah. "Kondisi jenazah yang berhasil ditemukan tim evakuasi memang sudah mulai rusak. Namun, jenazah tersebut masih bisa dikenali," katanya. Dia mengungkapkan, meskipun proses evakuasi masih terus berlanjut, kekuatan personel dan alat berat yang digunakan akan dikurangi. Alat berat berupa ekskavator dari CV Baru Bangkit dan Zeni Kodam IV/ Diponegoro yang sebelumnya berjumlah 7 unit, akan ditarik tiga unit. Sebagai gantinya, kata dia, akan didatangkan tiga unit loader untuk membantu penuntasan evakuasi. Semula proses evakuasi para korban akan dihentikan pada Sabtu (7/1) jika membuahkan hasil yang signifikan, minimal mendekati angka terakhir dari jumlah korban yang diperkirakan masih tertimbum. Namun, kemarin, tim evakuasi hanya berhasil menemukan 8 jenazah korban bencana tanah longsor di Gunungraja. Sehingga total korban yang sudah berhasil dievakuasi dari lokasi bencana 58 orang dan satu di rumah sakit. Sehingga korban meninggal berjumlah 59 orang. "Semula kalau yang belum bisa ditemukan hanya tinggal beberapa orang saja memang akan kita hentikan hari ini. Namun karena kondisinya berubah ya kita perpanjang satu hari lagi," tandas Hadi. Salah satu keluarga korban, Masriah (46) warga RT 4/RW 3 meminta agar evakuasi dilanjutkan lagi. Pasalnya kedua adiknya masih belum ditemukan. Mereka, katanya, juga sudah dicari di lokasi pengungsian juga tidak ada. "Mereka masih terkubur. Tidak mungkin mengungsi," katanya ditemui terpisah di lokasi pengungsian di SDN Sijeruk. Hal serupa juga diharapkan Sutarno (45). Dia masih kehilangan anak dan istrinya serta seorang adiknya. "Kalau masih bisa dicari ya tolong dicari lagi. Kalau sudah tidak bisa saya ikhlas. Kalau mau ditutup atau dihentikan ya silakan," harapnya. Berkelamin Perempuan Dari evakuasi yang dilakukan Sabtu (7/1), Tim SAR gabungan kembali menemukan delapan korban meninggal. Kedelapan korban tersebut semuanya berjenis kelamin wanita. Evakuasi dengan menggunakan delapan alat berat (begu) itu, kemarin dimulai pukul 07.00, dan dihentikan pukul 15.00. Hal tersebut disebabkan karena faktor cuaca, yakni turun hujan yang cukup lebat dan mulai turun kabut di wilayah sekitar bencana. Kondisi semacam itu membuat kerja Tim SAR sedikit terganggu. Selang satu jam evakuasi dijalankan, seorang korban ditemukan tim evakuasi. Kondisi tubuh korban tersebut cukup mengenaskan. Kendati demikian, mayat itu berhasil diidentifikasi dengan nama Sutinah (21) warga RT 04/III. Selang beberapa jam kemudian berturut-turut Ny Kiswari (60), Ny Kusmedi alias Maniyem (45), Ny Maksudi (65), Siti Jariyah (50) dan Sobinah (30) berhasil ditemukan. Menjelang pukul 12.30, tim kembali menemukan dua korban yang diidentifikasi bernama Kasromi Isah (40) dan Ny Sukhemi (40). Saat ditemukan, hampir semua korban bagian tubuhnya rusak akibat berhari-hari terbenam dalam timbunan tanah serta terkena hantaman alat berat saat menggangkat tubuh korban. "Rata-rata tubuh korban sulit dikenali, karena banyak anggota tubuhnya yang tercerai berai. Bahkan beberapa di antaranya ada bagian tubuh terpisah. Meski demikian, sebagian warga ada yang mengenali ciri-ciri anggota keluarganya," tukas Utami, salah seorang relawan yang bertugas memandikan jenazah wanita. Kemarin, tempat pengidentifikasi dan penampungan korban meninggal dipindahkan ke dekat lokasi bencana longsor di Dusun Gunungraja, Desa Sijeruk. Menempati sisi sebelah barat lokasi bencana, tempat pengindentifikasian yang juga sebagai tempat pemandian jenazah tersebut, masih disesaki warga maupun pengunjung yang ingin melihat lokasi bencana dan korban yang ditemukan. Sebelumnya, tempat pengindentifikasian dan penampungan korban meninggal dipusatkan di Mushala Annur Desa Sijeruk. Pemindahan tempat tersebut lantaran jarak tempuh yang cukup jauh dengan lokasi bencana. Terlebih, selain medan yang dilalui cukup berat juga disebabkan banyaknya tubuh korban yang saat ditemukan sudah dalam kondisi rusak. Dengan demikian, begitu ada jenazah yang ditemukan langsung bisa dibawa ke tempat pengindentifikasian yang tidak terlampau jauh tempatnya. Dari kedelapan korban meninggal yang ditemukan, tujuh di antaranya dimakamkan secara massal. Tujuh jenazah tersebut dimakamkan di Pemakaman Umum Gunungraja, bersampingan dengan puluhan jenazah yang sebelumnya juga dikebumikan massal. "Karena tak ada yang mengambil jenazah korban, warga dan tim evakuasi sepakat untuk menguburkannya secara massal. Kalau tidak selekasnya dimakamkan jenazah akan membusuk," ujar salah seorang anggota Tim SAR gabungan. Dua korban terakhir yang ditemukan dimakamkan pukul 15.00, di tengah guyuran air hujan. Korban tersebut kebanyakan ditemukan di RT 1. Kebetulan konsentrasi pengerukan timbunan tanah sekarang diarahkan ke bagian selatan ujung barat, sekitar masjid dan batas terakhir longsoran tanah menimbun dusun tersebut. Cuma masalahnya lokasi ini relatif labil dan medannya agak berat. Dengan tujuh alat berat dan peralatan pendukung lainnya, proses evakuasi dinilai sudah maksimal. Namun karena timbunan tanah yang ketebelannya diperkirakan sampai enam meter membuat pengerukan memakan waktu banyak. Kebetulan lokasi timbunan material lumpur dan bebatuan yang menimpa Dusun Gunungraja luasnya sekitar 1, 5 hektare (area pemukiman). Itu belum termasuk lokasi lahan pertanian yang diperkirakan sekitar 4 ha. Di sebelah timur dusun yang tertimbun itu berupa tanah berbukit yang sebagian merupakan pemakaman umum desa setempat. Sebelah utaranya merupakan hamparan kebun salak. Sedangkan sebelah baratnya adalah bukit Pawinihan yang longsor dan sebelah selatannya kebun salak yang berbatasan dengan Dusun Gunungraja, Desa Kendaga. Sementara itu, Bupati Banjarnegara Djasri mengatakan, sampai hari ketiga kemarin evakuasi korban yang diperkirakan hilang atau masih tertimbun tinggal 16 orang. Jumlah ini, katanya, lebih sedikit dari yang diperkirakan sebelumnya dan informasi yang sudah dilansir sejumlah media massa yang jumlahnya mencapai puluhan orang . "Mereka yang berada diperantauan sekitar 43 orang, mungkin ikut dihitung sebagai korban yang diperkirakan hilang. Ini sekaligus saya luruskan," kata Bupati kepada wartawan di sela-sela menerima kunjungan Mendagri dan Gubernur Jateng. (mos,G22,fzm,H6-41) | ||||