| Minggu, 08 Januari 2006 | SEMARANG |
Banjir Jadi Berkah bagi Tukang OjekBANJIR di Jl Raya Kaligawe ternyata tidak selalu memberikan kerugian. Peristiwa yang bagi banyak orang dianggap menyusahkan itu, ternyata justru menjadi berkah bagi para tukang ojek dan ''pak ogah''. Banjir yang mulai sering terjadi sejak akhir Desember 2005 lalu, kini seolah-olah telah menjadi bagian keseharian warga yang sering melewati jalur utama Semarang-Demak. Awalnya, genangan masih mudah diterabas karena jalan belum rusak. Kondisi itu kemudian dimanfaatkan para tukang ojek yang tergabung dalam Organisasi Ojek Wartam. Sunarto, sekretaris organisasi itu mengatakan, biasanya anggotanya yang berjumlah sekitar 20 orang itu mangkal di bawah jembatan tol. Tapi, sejak ada banjir mereka memilih mangkal di jalan keluar tol di sisi selatan Jl Kaligawe. Para pengguna jasa adalah para penumpang bus yang turun di tempat itu. Sebagian dari mereka ada yang menuju Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, sebagian lagi ke Terminal Induk Terboyo. Dia mengaku, dengan adanya banjir para tukang ojek di tempat itu menaikkan ''tarif'' antar ke kedua tempat itu. Pada saat tidak banjir, mereka menarik ongkos Rp 5.000, namun saat ada genangan di mana-mana, tarif pun naik menjadi Rp 15.000. Alasan yang dikemukakan ternyata cukup sederhana. Sebaik apa pun sepeda motor yang digunakan, kalau terus-terusan terendam banjir pasti akan cepat rusak. Dengan kata lain, perbaikan pun harus sering dilakukan, dan itu tentu saja tidak gratis. Dia mengaku pendapatan mereka bertambah sejak adanya banjir. Biasanya, setiap tukang ojek hanya bisa membawa pulang uang Rp 30.000. Namun, sejak banjir setiap hari mereka bisa membawa pulang uang hingga Rp 180.000. Pak Ogah Kerusakan jalan juga mendatangkan penghasilan tambahan bagi warga yang ikut mengatur lalu lintas. Mereka yang biasa disebut ''Pak Ogah'' itu, terlihat di jalan masuk arteri Yos Sudarso dari arah Kaligawe. Persis di kelokan tersebut, lubang-lubang yang cukup dalam mulai bermunculan. Hal itulah yang kemudian dimanfaatkan para ''Pak Ogah''. Salah satu ''Pak Ogah'' itu adalah Alex Giarto (15), warga Desa Wonokerto, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak. Di tempat itu ada sekitar 40 orang yang mendapatkan penghasilan dengan cara seperti itu. Sejak muncul lubang-lubang di daerah itu, dia mulai berjaga sejak pukul 05.00 - 14.30. Setelah itu, hingga malam hari ada kelompok lain yang menggantikan. Tentang penghasilan, remaja putus sekolah itu mengaku dalam sehari seorang ''Pak Ogah'' itu bisa memperoleh Rp 20.000. (Purwoko Adi S-37) |