logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 08 Januari 2006 SEMARANG
Line

Rumah Kades Mutih Wetan Dirusak Ratusan Orang

  • Warga Menuntut Mundur

DEMAK- Ratusan warga Desa Mutih Wetan, Kecamatan Wedung, Demak, Jumat (6/1), sekitar pukul 17.30, merusak rumah milik kepala desanya, Asmuni, dan Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Mujtahid. Mereka mendesak Asmuni turun dari jabatannya, lantaran diduga korupsi.

Massa emosi karena desakan itu belum berhasil. Semula warga meminta Asmuni hadir di kantor kelurahan untuk dimintai pertanggungjawaban. Namun, yang bersangkutan tidak datang. Hal itu menyulut kemarahan warga. Massa yang mengatasnamakan Gerakan Pemuda dan Masyarakat Bersatu (GPMB) itu, kemudian menyegel kantor kelurahan dengan cara menutup pintu masuk dengan sejumlah kayu.

Beberapa menit kemudian, petugas dari Polres Demak tiba di lokasi. Perhatian warga beralih ke rumah kepala desa. Tidak berapa lama, beberapa warga yang berada di samping rumah itu melempar benda-benda keras. Akibatnya, genteng dan kaca jendela rumah tersebut pecah. Saat kejadian, Asmuni bersama keluarga sudah mengungsi ke tempat saudaranya.

Petugas yang mengetahui hal itu langsung menghalau massa agar tidak bertindak anarkis. Setelah petugas memberikan tembakan peringatan ke udara, massa berangsur bubar.

Ternyata, mereka beralih ke rumah Ketua BPD Mujtahid yang berjarak 500 meter dari rumah kepala desa. Massa bertindak begitu cepat merusak rumah tersebut dengan memecah kaca jendela, kaca ventilasi, dan melempari ke arah genteng. Rumah itu pun sudah ditinggalkan penghuninya dengan bersembunyi di rumah tetangga. Massa yang tampak brutal itu lari kalang kabut ketika puluhan personel polisi datang.

Sebelum terjadi perusakan, beberapa warga menyita sepeda motor dinas kepala desa dan ketua BPD berupa Honda Legenda.

Saudara dekat Asmuni, Sarno (43) menuturkan, kemarahan warga memuncak setelah tuntutan mereka tidak direspons Asmuni. Kepala desa yang akan habis masa jabatannya tahun 2007 itu, keberatan meletakan jabatan jika tidak sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Apalagi, dugaan yang dituduhkan kepadanya sedang dalam proses pemeriksaan Bawasda.

Pada Rabu (4/1), tim dari Bawasda telah memeriksa persoalan yang diadukan warga. "Pemeriksaan itu justru dinilai warga sebagai pembenaran bahwa telah terjadi penyimpangan anggaran. Padahal, belum ada hasil apa pun. Semua baru dugaan," terang Sarno yang menunggui rumah Asmuni.

Mujtahid menjelaskan, kemarahan warga terhadap dirinya karena dinilai sebagai orang yang terlibat dalam persengkokolan melakukan korupsi. Padahal, tuduhan itu tidak benar. Sebagai ketua BPD, dirinya mengaku tahu persis setiap kebijakan yang diambil kepala desa.

"Semua keputusan yang menyangkut desa, Asmuni selalu menggelar rapat desa yang melibatkan tokoh masyarakat dan perangkat. Jadi, keputusannya adalah kebijakan desa."

Sementara Siti Khatijah (40), istri Mujtahid menyela dengan mengatakan tidak habis pikir orang-orang yang selama ini dikenalnya begitu beringas merusak rumahnya. Dia hanya bisa menangis sambil memeluk anak-anaknya yang bersembunyi di rumah tetangga. Massa yang berteriak dengan menyebut nama Tuhan merusak rumahnya dengan batu, bata, dan batang kayu.

Stiker Cabup

Sementara berdasarkan informasi lain yang berkembang di masyarakat, ketegangan terjadi karena kepentingan politik menjelang pilkada, antara dua pendukung calon bupati yang berbeda. Yakni, pendukung pasangan Endang Setyaningdyah-Nurul Huda dengan Sutetyo-Khaeron.

Kepala desa dipandang mendukung pencalonan kembali Bupati Hj Endang Setyaningdyah. Apalagi, Mujtahid termasuk orang yang paling giat menyebar dan memasang stiker bergambar Endang-Nurul Huda di rumah-rumah warga.

Terhadap isu itu, Mujtahid mengatakan bisa saja benar. Dirinya yang juga Ketua PAC PDI-P Wedung memiliki tanggung jawab menyukseskan calon yang diusung partainya.

"Mungkin langkah saya membuat mereka panas, sehingga memicu ketegangan. Itu memang konsekuensi bagi aktivis parpol. Tetapi, semestinya tidak seperti itu. Kalau mereka membagi stiker pasangan cabup kepada warga, saya pun tidak akan ikut campur."

Dihubungi secara terpisah, Koordinator GPMB Qusayin mengatakan, tidak ada muatan politis di balik tuntutan mundur kepala desa oleh warga. "Warga menilai kepala desa korup, sehingga pantas mundur," katanya.

Terkait dengan tindak anarkis massa, dia mengaku sudah berusaha menghalang-halangi agar tidak bertindak anarkis, tetapi mereka nekat melakukan hal itu. Hingga sore kemarin, kedua rumah milik perangkat desa tersebut masih dijaga aparat Polres Demak. Tampak di antaranya Kapolsek Wedung AKP Suyuti SH. (H1-37)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA