SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Sabtu, 07 Januari 2006

- Inilah terobosan awal Komisi Yudisial yang dipimpin oleh ketuanya, Busyro Muqoddas. Mereka mengusulkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk melakukan seleksi ulang terhadap 49 hakim agung. Sekarang sedang disiapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) mengenai hal itu agar langkah "penertiban" di tubuh Mahkamah Agung tak bertentangan dengan undang-undang yang telah ada. Diperlukan payung hukum dan untuk itu Presiden telah menugaskan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin untuk mengkajinya. Langkah terobosan ini dinilai cukup radikal dan oleh karenanya menimbulkan pro-kontra. Banyak yang mendukung, namun tak sedikit yang mengingatkan agar kita berhati-hati melangkah.

- Dua berita buruk datang dari Timur Tengah. Pertama, Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, menderita stroke parah dan kini sedang kritis. Kedua, kekerasan bersenjata antara militer Israel dan para pejuang Palestina kembali pecah, setelah terhenti cukup lama -sejak gencatan senjata- menyusul penarikan tentara Israel dari Jalur Gaza. Cita-cita tentang perdamaian jelas makin suram. Banyak yang memprediksi, aksi-aksi kekerasan akan merebak lagi, jika Sharon menemui ajal. Sekalipun pada awalnya dia dikenal sebagai sosok garis keras antiperdamaian, namun sikapnya berubah akhir-akhir ini. Sekarang dia memposisikan diri sebagai sosok moderat, yang mendambakan perdamaian dengan Palestina.

SEMINAR internasional tengah dilangsungkan di Semarang oleh Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia (HISPISI) bertema Pendidikan IPS Antarbangsa. Salah satu faktor pendorong diselenggarakannya seminar adalah keprihatinan para pakar ilmu sosial akan nasib ilmu sosial yang di Indonesia dinomorduakan setelah ilmu eksakta.

MEMBUKA lembar sejarah bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan, tercatat banyak haji yang menjadi pelopor dan penggerak roda perjuangan. Sebut saja Haji Agus Salim, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Kiai Haji Ahmad Dahlan, Kiai Haji Hasyim Asy'ari, dan banyak lagi lainnya.

Untuk penulis "Bukalah Hatimu Guru..." (Surat Pembaca 22 Desember 2005), sebagai guru saya menghargai ajakan untuk membuka hati dan membangun bangsa bersama komponen PNS lain serta menyerahkan urusan kesejahteraan kepada yang berwenang.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA