|
|
- Inilah terobosan awal Komisi Yudisial yang dipimpin oleh ketuanya,
Busyro Muqoddas. Mereka mengusulkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
untuk melakukan seleksi ulang terhadap 49 hakim agung. Sekarang sedang
disiapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) mengenai
hal itu agar langkah "penertiban" di tubuh Mahkamah Agung tak
bertentangan dengan undang-undang yang telah ada. Diperlukan payung hukum
dan untuk itu Presiden telah menugaskan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin
untuk mengkajinya. Langkah terobosan ini dinilai cukup radikal dan oleh
karenanya menimbulkan pro-kontra. Banyak yang mendukung, namun tak sedikit
yang mengingatkan agar kita berhati-hati melangkah.
|
 |
- Dua berita buruk datang dari Timur Tengah. Pertama, Perdana Menteri
Israel, Ariel Sharon, menderita stroke parah dan kini sedang kritis. Kedua,
kekerasan bersenjata antara militer Israel dan para pejuang Palestina kembali
pecah, setelah terhenti cukup lama -sejak gencatan senjata- menyusul penarikan
tentara Israel dari Jalur Gaza. Cita-cita tentang perdamaian jelas makin
suram. Banyak yang memprediksi, aksi-aksi kekerasan akan merebak lagi,
jika Sharon menemui ajal. Sekalipun pada awalnya dia dikenal sebagai sosok
garis keras antiperdamaian, namun sikapnya berubah akhir-akhir ini. Sekarang
dia memposisikan diri sebagai sosok moderat, yang mendambakan perdamaian
dengan Palestina.
|
 |
SEMINAR internasional tengah dilangsungkan di Semarang oleh Himpunan
Sarjana Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia (HISPISI) bertema Pendidikan
IPS Antarbangsa. Salah satu faktor pendorong diselenggarakannya seminar
adalah keprihatinan para pakar ilmu sosial akan nasib ilmu sosial yang
di Indonesia dinomorduakan setelah ilmu eksakta.
|
 |
MEMBUKA lembar sejarah bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan,
tercatat banyak haji yang menjadi pelopor dan penggerak roda perjuangan.
Sebut saja Haji Agus Salim, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Kiai Haji Ahmad
Dahlan, Kiai Haji Hasyim Asy'ari, dan banyak lagi lainnya.
|
 |
Untuk penulis "Bukalah Hatimu Guru..." (Surat Pembaca 22 Desember
2005), sebagai guru saya menghargai ajakan untuk membuka hati dan membangun
bangsa bersama komponen PNS lain serta menyerahkan urusan kesejahteraan
kepada yang berwenang.
|
|