| Sabtu, 07 Januari 2006 | KEDU & DIY |
Bencana Alam Bisa DiantisipasiYOGYAKARTA - Sebenarnya, kerugian akibat bencana alam atau risiko geologi terhadap konstruksi teknik, menurut pakar longsoran UGM Yogyakarta Dr Ir Dwikorita Karnawati MSc, bisa diantisipasi dan diminimalkan. Caranya, lewat penyelidikan dan pemetaan secara tepat. Penyelidikan, pemetaan, dan antisipasi risiko geologi teknik sangat diperlukan, terutama dalam pembangunan konstruksi-konstruksi penting seperti terowongan, jalan tol, jembatan, dan bendungan. Hal itu dikatakan staf pengajar Teknik Geologi FT UGM itu, Jumat (6/1), ketika mengomentari tanah longsor ataupun banjir yang mengakibatkan puluhan orang meningal akhir-akhir ini. Menurut dia, mengingat kondisi geologi Indonesia sangat kompleks, baik posisi, sebaran struktur geologi maupun kondisi stratigrafinya, pemetaan sangat diperlukan. Urut-urutan batuan ataupun endapan penyusun juga perlu dianalisis. Selain itu, diuji kemampuan dan kekuatannya dalam melalukan air serta mendukung kontruksi. Dengan demikian, risiko gangguan kestabilan pada konstruksi teknik yang bertumpu di atas tanah bisa diantisipasi. Dwi juga mengungkapkan, statigrafi batuan terutama pada lereng-lereng pegunungan atau lereng gunung api di Jawa, pada umumnya tersusun atas batuan vulkanik kasar yang berselang-seling dengan batuan vulkanik halus, khususnya tuf (abu vulkanik). Tuf itulah yang sering menimbulkan gangguan kestabilan pada konstruksi. Sebab, tuf sangat sensitif dalam menyerap air. Akibatnya jika tuf jenuh air, akan mengalami kehilangan kekuatan geser dan daya dukung terhadap konstruksi teknik. Sementara pada lembah-lembah di daerah vulkanik, banyak dijumpai endapan koluvial, endapan sungai purba ataupun tanah lempung tipe smectite montmorillonite yang sering menimbulkan gangguan kestabilan pada konstruksi di atasnya. ''Kenyataannya, gangguan pada drainase dan kestabilan terhadap konstruksi teknik, sangat mungkin terjadi pada lereng-lereng dan lembah-lembah daerah pegunungan atau perbukitan,'' ujarnya. (P12-39m) |