logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 06 Januari 2006 SALA
Line

Sepur Purwosari-Sangkrah

Bisa Menjadi Embrio MRT Solo

SETELAH melontarkan ide akan membongkar rel kereta api di tengah kota, dulu, yang kemudian mendapat kecaman dari masyarakat, Kepala DLLAJ Surakarta Ponco Wibowo kini melontarkan ide untuk mengoptimalkan sepur Sangkrah-Purwosari yang melintasi rel tersebut. Di depan DPRD, Rabu lalu, dia melontarkan ide itu. Kali ini tentu itu ide yang bagus dan patut didukung berbagai pihak.

Keberadaan kereta jurusan Solo-Wonogiri itu memang menggemaskan. Tidak laku dijual, hampir tidak ada yang naik, kecuali saat tertentu seperti Lebaran atau ketika ada warga yang ingin bernostalgia melakukan perjalanan dengan kereta api ke Wonogiri.

Sepintas, kereta di tengah kota itu memang mengganggu. Pada saat-saat tertentu ketika lewat, polisi dibuat sibuk mengatur kendaraan agar berhenti. Sebab lintasan jalan yang dilewati tidak ada palangnya sehingga sesekali masih saja terjadi mobil nyelonong dihantam kereta sampai ringsek.

Namun sesungguhnya konsep kereta di tengah kota itu sudah ada dan berkembang baik di negara-negara maju. Kereta menjadi angkutan massal (mass rapit transportation/MRT), meski berjalan di tengah kota, di antara laju mobil. Sama dengan kereta Solo-Wonogiri itu, bisa berhenti di mana pun, bahkan dibuat halte-halte yang bisa jadi tempat singgah.

Bedanya, di negara maju seperti Singapura, Australia, Jerman, Prancis, keretanya sangat bagus, ber-AC, nyaman, sehingga masyarakat pun memilih menggunakan kereta itu daripada bepergian dengan mobil yang harga BBM-nya selangit.

Konsep MRT memang digunakan untuk mengatasi kemacetan kota. Lothar Mahnke, konsultan pengembangan ekonomi regional dari Jerman mengatakan, pengoptimalisasian kereta untuk angkutan massal itu ditempuh ketika Berlin dan kota lainnya di Jerman mulai macet.

"Fenomena macet memang menjadi indikasi perkembangan kota, ketika beranjak menjadi metropolitan. Nah, dalam hal ini, Pemerintah Jerman saat itu memang bergerak cepat mengantisipasi keadaan itu sehingga dengan cepat melakukan reformasi di bidang transportasi massal itu," jelas dia.

Bebas Kemacetan

Buktinya, Berlin dan kota lainnya di Jerman saat ini hampir terbebas dari kemacetan. Jauh sekali jika dibandingkan dengan Jakarta, bahkan Surabaya saat ini juga sudah mulai macet setiap hari. Ketika kondisi sudah begitu ruwet, gagasan MRT menjadi relevan.

Nah, saat ini, Solo memang belum seperti Surabaya atau Jakarta. Namun lebih awal menggagas optimalisasi sepur di tengah kota itu merupakan ide brilian yang harus didukung. Tentu ini untuk mengantisipasi ke depan, ketika kondisi kota mulai ruwet akibat macet.

Nah, langkah awal, DLLAJ perlu bicara dengan pihak PT Kereta Api untuk menggagas kereta yang nyaman yang tidak ngisin-isini dinaiki, seperti sekarang. Paling tidak, tahap awal fungsi pariwisata bisa dikedepankan. Misalnya dibuatkan halte di depan Pusat Grosir Solo (PGS), di depan Solo Grand Mall, dan beberapa tempat yang penting yang sering dikunjungi masyarakat. Sepur kelak bisa berhenti di tempat itu.

Langkah awal tersebut akan menjadikan kereta yang selama ini hanya mengangkut bakul dari Wonogiri ke Pasar Sangkrah dan sekitarnya itu akan naik martabatnya menjadi sepur kelas mal atau supermarket. Jika nyaman, tentu masyarakat akan mau menggunakannya sehingga kereta itu akan menjadi embrio MRT di Solo. Selamat bekerja Pak Ponco. (Joko Dwi Hastanto-42n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA