| Jumat, 06 Januari 2006 | SALA |
Petugas Pejagen dan Tugur di Keraton Diperkuat LagiBALUWARTI - Petugas jaga keamanan di siang hari maupun tugur di malam hari yang ditempatkan di pos-pos penjagaan kompleks Keraton, akan diperkuat lagi. Bahkan, di pos-pos penjagaan yang sudah lama kosong, akan diaktifkan dengan menambah petugas jaga ataupun jumlah personelnya. "Memang banyak pos-pos pejagen (penjagaan-Red) dan dinas tugur yang lama tidak aktif dan kosong tak terisi. Itu karena kondisi Keraton memang tidak memadai, terutama dari segi keuangan untuk kesejahteraan mereka (abdi dalem-Red). Kami ingin seperti Keraton Yogya, tetapi apa daya, dukungan keuangan sangat minim," ujar GPH Puger selaku Pengageng Museum dan Pariwisata Keraton Surakarta, yang ditemui di tempat tugasnya, Gedung Sasana Pustaka, kemarin (5/1). Pimpinan perpustakaan itu, lebih lanjut mengatakan, di masa lalu hampir di semua pos penjagaan di kompleks Keraton, terisi penuh dan tugas gilir jaga berjalan lancar. Terpelihara Sistem keamanan yang kuat mulai dari pintu masuk Gladag hingga kawasan inti Keraton di tengah Baluwarti, lalu di pintu keluar Gapura Gading itu, tetap terpelihara hingga awal masa pemerintahan almarhum SISKS Paku Buwono XII atau awal berdirinya RI. Namun, lambat laun kondisi Keraton melemah seiring dengan penyerahan semua asetnya dan proses "pemiskinan" Keraton terus berjalan. Bahkan, hingga pemerintahan Orde Baru lewat dan berganti-ganti sampai sekarang. Dalam posisi ekonomi seperti itu, tentu saja Keraton tidak mampu menggaji para petugas jaga di semua pos. Pengurangan petugas seiring dengan penghapusan pos-pos jaga seperti di Gapura Gading, Kori Brajanala Kidul, pintu masuk Gladag dan sebagainya, terjadi karena Keraton tidak lagi merupakan sebuah kekuatan politik. Hingga kini, hanya pos-pos tertentu di kawasan bangunan inti yang masih berjalan, dan jumlah personelnya pun tidak seideal yang didambakan. "Yang berjalan lama hanya di tempat-tempat tertentu yang digunakan untuk lalu lintas utama sebagai pintu keluar masuk ke dalam Keraton. Itu pun jumlahnya terbatas, usianya rata-rata sudah uzur dan jauh dari ukuran layak jual dalam konteks komiditi pariwisata," ujarnya dibenarkan Ebit Pramudijanto, abdi dalem yang bertugas di bidang personalia Kantor Pengageng Sasana Wilapa. Ebit yang ditemui di tempat terpisah membenarkan hal itu, bahkan menambahkan bahwa ketika Keraton diharapkan menjadi objek wisata andalan di Kota Solo dan wilayah Jateng, harus dimulai dengan memperhatikan komponen-komponen kecil, misalnya sistem keamanan internal. (won-42d) |