logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 06 Januari 2006 SALA
Line

"Bahayane Napa Kok Nyalawadi"

"Oalah, Mas, kula malah mboten mikir perkara niku. Wong ngangge formalin napa mboten, ya tetep angel golek-golekane......"

SEPERTI tanpa beban, perkataan itu meluncur begitu saja dari bibir Wartini (35). Mendengarnya, mungkin akan ada yang mengira sebagai pernyataan yang skeptis. Seolah perempuan itu tak peduli, saat bahan pengawet bernama formalin yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia itu akhir-akhir ini ditengarai sering digunakan untuk mengawetkan sejumlah makanan.

"Kalih melih, bahayane formalin niku napa ta Mas, kok sajake nyalawadi sanget (Lagi pula, bahayanya formalin itu apa ta Mas, kok sepertinya sangat mendapatkan perhatian)," ujar perempuan yang mengaku sebagai buruh gendong di Pasar Legi Solo itu, kemarin.

Namun terlepas dari kesan skeptis atau tidak, itulah memang, di antara seribu kisah yang mengiringi saat kasus penggunaan bahan pengawet formalin untuk sejumlah makanan seperti mi akhir-akhir ini mengemuka. Ketika sekian orang begitu takut dan ketika sekian yang lain juga berusaha menghindari, toh masih saja ada yang seperti tak mempedulikannya.

Cobalah jangan buru-buru untuk menyudutkan atau bahkan menyalahkan Wartini, berkait dengan ketidakpeduliannya itu. Betapa pun, mungkin saja dia memang tidak akan sempat menyisakan waktu untuk memikirkan tentang persoalan tersebut.

Apalagi, ketika penghasilan seorang buruh gendong itu bisa dikatakan tak menentu dan pas-pasan. Maka bisa dimaklumi, kalau kemudian dia merasa masa bodoh dengan persoalan formalin itu.

"Mikir entuk dhuwit napa mboten kemawon sampun susah kok, malah mikir formalin barang. Legan golek momongan, niku jenenge (Memikirkan dapat uang atau tidak saja sudah susah kok, malah memikirkan formalin segala. Itu namanya orang yang kurang kerjaaan)," ujarnya.

Serba Susah

Dari sudut pandang perempuan itu, mungkin saja formalin memang tak bisa memberikan sebuah rasa ketakutan dalam kehidupannya yang serbasusah. Namun demikian, bukan berarti pandangan tersebut terus menjadi simpulan mayoritas, ketika di luar itu ternyata juga ada yang menyikapinya dengan cara berbeda.

Tak percaya, cobalah simak penuturan Siti, pemilik Warung Bakso Pak Alex, di kawasan Jalan Gajah Mada, Timuran, Banjarsari. Meski menurut dia sejak warung baksonya tidak pernah mengenal benda pengawet itu, namun terkadang ada juga pembeli yang masih mempertanyakannya. Ada satu dua pembeli yang ingin mendapatkan penegasan, dengan bertanya apakah pakai formalin atau tidak.

"Bahkan, pernah beberapa waktu lalu dalam satu hari pembeli kami sepi. Beruntung, sekarang sudah normal kembali," ujarnya saat ditemui di warungnya, kemarin.

Berbeda dengan yang diungkapkan oleh perempuan itu, Hermawan, pemilik warung mi Miroso yang berada di kawasan Jalan Honggowongso Solo mengaku berkurangnya pembeli di warungnya bukan karena maraknya kasus formalin. Namun, itu sudah terjadi sejak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu lalu.

"Walaupun kami juga tidak menggunakan bahan pengawet apa pun, bahkan dengan mi yang berkualitas, pembeli juga tidak bisa seramai sebelum ada kenaikan harga BBM," katanya.

Lantas bagaimana dengan masyarakat di luar pedagang makanan? Ada cerita menarik yang saat ini masih menjadi semacam sindrom traumatis pada diri seorang perempuan yang juga menjadi pemilik warung makan di sebuah kawasan Jalan Slamet Riyadi, tepatnya di sebelah barat Hotel Cakra itu. "Kalau saya sedang membeli penganan tahu, terkadang melihat yang keras saja serasa berdesir," ujar perempuan yang tak ingin disebutkan namanya tersebut.(Wisnu Kisawa-42a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA