| Jumat, 06 Januari 2006 | SALA |
Produsen Mi dan Tahu Jadi Sasaran OperasiKOTA - Setelah sehari sebelumnya melakukan operasi di sejumlah pasar tradisional dan sekolah dasar (SD), Kamis (5/1) kemarin Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta bersama dengan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Provinsi Jawa Tengah kembali melakukan operasi serupa. Kali ini, giliran industri mi dan tahu yang menjadi sasarannya. Pemantauan kemarin, tak kurang dua lokasi yang selama ini dikenal sebagai tempat pembuatan mi dan tahu menjadi sasaran dalam operasi terhadap makanan yang berisiko menggunakan formalin tersebut. Operasi pertama dilakukan di industri pembuatan mi basah "Sari Mirasa" di kawasan Jalan Urip Sumoharjo, dan lokasi kedua di pabrik tahu "Sari Murni" di Kampung Krajan, Kelurahan Mojosongo, Jebres. Di dua lokasi tersebut, sebelum melakukan pengambilan sampel, petugas sempat memeriksa terlebih dahulu ruang produksi. Sejumlah sudut ruangan coba disisir. Barang-barang yang dipandang menarik perhatian, seperti jerigen dan ember, juga dibuka untuk sekadar mengetahui isinya. Hal itu, seperti yang terjadi saat petugas berada di industri mi basah "Sari Mirasa", tepatnya di sebelah timur perempatan Warung Pelem. Di tempat tersebut, petugas sempat menanyakan sejumlah barang yang ditengarai bisa digunakan untuk menyimpan benda cair. "Ini isinya apa, Pak?," tanya salah seorang petugas dari Balai POM ketika menemukan sebuah ember yang tertutup rapat di ruang produksi milik perusahaan "Sari Mirasa". "Oh, itu cuma air garam kok, Bu. Kalau ini wenter pewarna," jawab salah seorang karyawan seraya menunjukkan isinya. Uji Langsung Setelah puas melihat-lihat ruangan, para petugas dari DKK dan Balai POM kemudian langsung melakukan uji laboratorium di lokasi, baik saat berada di industri mi basah "Sari Mirasa" maupun saat berada di pabrik tahu "Sari Murni" Krajan. Makanan hasil produksi dari dua industri tersebut, diambil sampelnya untuk kemudian diuji langsung di tempat. Dalam melakukan pengujian, sampel dimasukan ke dalam gelas ukur yang sebelumnya telah diberi cairan formaldehid teskit . Setelah itu, makanan yang bercampur dengan cairan diaduk. Beberapa lama kemudian, barulah dimasukan stick indicator ke dalam air bekas rendaman makanan yang telah di angkat untuk mendeteksi kadar kandungan formalin. Namun dari hasil uji laboratorium itu, petugas tidak menemukan adanya indikasi penggunaan formalin terhadap makanan yang diproduksi oleh dua industri makanan tersebut. Dengan kata lain, baik jenis makanan mi hasil produksi "Sari Mirasa" maupun tahu dari "Sari Murni" dinyatakan bebas dari penggunaan formalin. Meski tak menemukan indikasi penggunaan formalin, tak urung operasi yang digelar di dua tempat tersebut sempat menarik perhatian masyarakat. Bahkan saat operasi dilakukan di Pabrik Tahu, banyak masyarakat di kampung Krajan berusaha ikut masuk ke dalam pabrik agar bisa melihat lebih dekat. Kepala DKK Surakarta, dokter Purnomo Dwi Putro, mengatakan, pihaknya akan terus melakukan upaya antisipasi terhadap kemungkinan penggunaan formalin pada makanan. (G19, G13-42a) |