logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 06 Januari 2006 MURIA
Line

Sunaryo Berobsesi Jadi Raja Durian

DALAM hal buah, Kabupaten Jepara yang selama ini dikenal dengan durian petruknya, bakal tersaingi Kabupaten Pati. Hal itu berkat usaha Sunaryo (36), warga Desa/Kecamatan Gunungwungkal, Pati. Lelaki yang hanya lulusan SMA itu bisa dikatakan "raja" tanaman hortikultura, khususnya buah-buahan.

"Jika Jepara terkenal dengan durian petruk, saya memiliki durian yang dagingnya berwarna merah dan ukurannya tak kalah besar. Saya juga memiliki durian tanpa biji dan sejumlah durian jenis unggul lain," ujarnya.

Jumlah pohon yang dia miliki dan saat ini mulai berbuah bukan hanya yang berada di halaman atau pekarangan rumah melainkan di beberapa lokasi kebun. Luas kebun buah miliknya lebih dari 80 hektare.

Karena itu, wajar jika dia bercita-cita untuk merebut predikat sebagai pemasok buah durian terbesar yang selama ini dipegang para petani durian di Kabupaten Jepara. Cita-cita itu tampaknya bukan hanya isapan jempol belaka.

Kunci keberhasilan itu ternyata ditentukan oleh kemauan dan tekad kuat untuk tidak berhenti pada apa yang sudah tercapai. "Bila ada informasi di daerah tertentu terdapat pohon buah durian unggul maka sampai di mana dan dengan biaya berapa tetap saya buru."

Sepanjang Tahun

Yang lebih membanggakan lagi, dari usaha kebun durian itu juga diikuti dengan penanaman pohon rambutan. Hasil sekali petik, bisa lima rit atau sekitar 25 ton. Dan untuk keperluan itu, para pedagang dari Semarang, Kudus, dan Demak langsung datang ke lokasi kebun miliknya.

Para pedagang tinggal menerima berat bersih rambutan di atas truk sebagaimana yang mereka butuhkan. Para pedagang itu tidak perlu harus memetik dengan tenaga sendiri. Sebab, Sunaryo sudah memiliki buruh petik.

Ada tiga jenis rambutan yang terdapat di antara pohon durian miliknya. Yakni rambutan binjai, lebak, dan rafia dengan harga Rp 4.000 - Rp 6.000/kg.

Urusan penjualan rambutan, dia menyerahkan kepada orang tuanya. "Sebab, yang menanam pohon rambutan adalah orang tua saya."

Dari pola pengelolaan tanaman hortikultura tersebut, telah menuntunnya menjadi petani tulen. Sebab, usaha yang dia tekuni bukan semata-mata mengelola kebun buah-buahan melainkan juga tebu dan ketela pohon.

Khusus tanaman yang disebut terakhir adalah untuk menunjang kebutuhan baku usaha penggilingan tapioka. "Meskipun usaha di bidang perkebunan sekali waktu dapat jatuh terpuruk, masih tetap bisa bangkit lagi karena ada panen berikutnya. Dan, itu berlangsung sepanjang tahun," ungkapnya. (Alman Eko Darmo-50j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA