| Jumat, 06 Januari 2006 | MURIA |
78 Desa Endemis DBD Dipantau KetatJEPARA - Tanda-tanda mewabah demam berdarah dengue (DBD) di Jepara pada awal 2006 ini mulai terlihat. Indikasi itu terpantau dari temuan kasus oleh Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) dalam empat bulan terakhir, dengan peningkatan lebih kurang 400% tiap bulan. "Ada 78 desa endemis DBD di Jepara. Kini tim penanggulangan DBD tengah berupaya mencegah dan memantau secara ketat di 78 desa tersebut," ujar Kepala DKK Jepara dokter Gunawan WS DTMH MKes kepada Suara Merdeka, Kamis (5/1). Dua hari lalu, tim penanggulangan DBD mengadakan rapat koordinasi dan evaluasi. Hasilnya, tim akan lebih meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan atas penyebaran penyakit DBD. Didampingi Kepala Seksi (Kasi) Pengamatan dan Pencegahan Penyakit Yunanto SKM, Gunawan mengemukakan, pada September 2005 hanya ditemukan seorang penderita. Pada bulan berikutnya meningkat menjadi delapan penderita, dan November 26 penderita. Kekhawatiran akan terulangnya wabah DBD sebagaimana terjadi pada Januari 2004 kembali muncul, setelah Desember 2005 jumlah penderita 86 orang. "Kami waspada karena jumlah penderita di desa-desa endemis pada Januari cenderung meningkat sebagaimana terjadi pada akhir 2003 dan awal 2004." Dalam catatan DKK, pada September 2003 ditemukan 11 penderita, Oktober (23), November (60), akhir Desember (302). Puncaknya terjadi pada Januari 2004 dengan 505 penderita. Saat itu 22 penderita meninggal. Sebulan kemudian, jumlah kasus menurun menjadi 361 dan semakin surut pada bulan-bulan berikutnya. Menurut keterangan Gunawan, pada pekan awal Januari ini sudah ditemukan lima kasus termasuk 86 penderita pada Desember 2005. Para penderita telah menjalani perawatan di puskesmas dan rumah sakit. "DBD kali ini menyerang sedemikian ganas. Hanya dalam waktu dua tiga hari sejak terindikasi terjangkit, terjadilah penurunan jumlah trombosit yang amat drastis, yaitu 50%. Jadi, dalam waktu tiga hari penderita sudah dalam kondisi cukup parah," paparnya. Saat ini, pihaknya tengah menggalakkan kinerja juru pemantau jentik (jumantik) di setiap desa dengan melibatkan para siswa di tiap-tiap desa dan anggota tim. "Curah hujan yang meningkat mengakibatkan banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, termasuk di talang-talang atap rumah." Secara terpisah, Direktur RSUD Kartini dokter HM Ali Pramono menekankan perlunya sedini mungkin penderita melapor ke puskesmas atau rumah sakit ataupun layanan kesehatan lain. "Idealnya, dalam waktu kurang dari 24 jam, penderita harus segera mendapatkan penanganan," tegasnya. (H15-50j) |