| Jumat, 06 Januari 2006 | MURIA |
Kali Juwana Tak Mampu Tampung Air dari HuluPATI -Meluapnya air dari Kali Juwana (JU) I, II, dan III, yang menyebabkan ratusan hektare sawah dan puluhan rumah penduduk tergenang, terjadi karena bagian hilir kali tersebut tak lagi mampu menampung air dari hulu. Akibatnya, limpasan air pun tak bisa dihindari. Kondisi tersebut, kata YMT Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana (Diskimpras) Pati, H Yuswanto ST, akan selalu terjadi pada saat musim hujan sepanjang tahun bila tidak segera ada upaya mencari solusi. "Sebab, bertemunya alur JU II dan III ke JU I menuntut konsekuensi tersendiri. Apalagi, semua alur kali tersebut berhulu di sekitar Bendung Wilalung, di Desa Babalan, Kecamatan Undaan, Kudus," jelasnya. Menurut dia, jika bendung yang dibangun pada masa penjajahan Belanda itu sudah tak mampu membuang air ke Kali Wulan, maka pintu air yang menuju ke arah Juwana (timur) harus dibuka. "Waktu itu, Belanda mempunyai lokasi pembuangan air di rawa-rawa, mulai dari Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, hingga Desa Srikaton, Kecamatan Kayen. Dari kawasan rawa-rawa tersebut, air dengan sendirinya akan terbuang ke laut lewat Kali Juwana," ungkap Yuswanto. Setelah sekian puluh tahun, tanah bekas rawa tersebut menjadi areal pertanian. Ironisnya, hingga saat ini Kali Juwana belum pernah satu kali pun dilakukan normalisasi. Padahal, pendangkalan yang disebabkan oleh tingginya tingkat sedimentasi juga berdampak kepada terjadinya penyempitan alur kali. Hal itu masih diperburuk dengan perilaku warga yang memanfaatkan tanggul kali tersebut untuk kegiatan pertanian tanaman semusim. Bahkan, ada bantaran kali yang disertifikatkan menjadi tanah hak milik. "Sekarang bisa dilihat, bagaimana bentuk alur Kali Juwana hilir; bantarannya menjadi areal tanaman semusim," jelasnya. Kali Londo Dia menambahkan, perhatian Pemprov Jawa Tengah yang mengalokasikan bantuan untuk normalisasi Kali Londo sepintas memang menjanjikan wilayah Kecamatan Undaan akan terbebas dari genangan banjir. Namun, satu hal tampaknya diabaikan oleh pihak yang berkompeten, yakni penanganan Kali Juwana bagian hilir. "Masalahnya, alur Kali Londo juga bermuara di Kali Juwana. Seharusnya, pengerukan Kali Londo disertai dengan upaya pengerukan Kali Juwana, sehingga pelaksanaan pekerjaan itu merupakan satu paket dan tidak sepotong-sepotong," tukasnya. Maksud Yuswanto, jika Kali Londo harus dikeruk, maka pekerjaan itu harus dimulai dari Juwana hilir, baru kemudian bergerak ke arah hulu. Sehingga, bila bagian hulu terjadi luapan air, untuk bagian hilir sudah siap menampung dan bisa mempercepat aliran air yang menggenang. Dampak positif dari pengurukan Kali Londo, bagi warga di wilayah Kecamatan Undaan memang sangat dirasakan. Karena, wilayah itu sedikit terbebas dari genangan. Akan tetapi, justru yang menjadi korban adalah wilayah Kecamatan Mejobo dan Jekulo (Kudus) Areal persawahan di dua wilayah kecamatan tersebut, akhirnya menjadi pusat genangan air dari hulu. Imbasnya, tak bisa dihindari, genangan juga terjadi di Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo, dan Desa Talun, Kecamatan Kayen, Pati. "Beberapa desa di wilayah Kecamatan Gabus, seperti Tanjang, Pantirejo, Gempolsari, Babalan, dan Mintobasuki, juga mengalami hal sama. Sebab, beberapa desa itu berlokasi di pinggir Juwana hilir," ujarnya. (ad-50a) |