| Jumat, 06 Januari 2006 | EKONOMI |
Proses Deindustrialisasi Sedang BerlangsungYOGYAKARTA-Jika dicermati berbagai fakta dan data sampai tahun 2005, menurut Direktur Program Diploma Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta Dr Fahmy Radhi MBA, akan tampak berbagai gejala yang mengarah pada proses deindustrialisasi. Misalnya, pertumbuhan sektor industri yang hanya tumbuh rata-rata di bawah 5 persen/tahun selama periode setelah krisis ekonomi pada 2000-2005. Bandingkan dengan periode sebelum krisis ekonomi pada 1992-1997, pertumbuhan sektor industri bisa mencapai rata-rata 9 persen/tahun. Hal itu disampaikan anggota tim ahli Pustep UGM itu pada seminar bulanan di Pusat Studi Ekonomi Pancasila (Pustep) UGM, di kantor Pustep Bulaksumur Yogyakarta, baru-baru ini. Menurut Fahmy, penurunan juga terjadi pada kontribusi sektor industri terhadap total PDB, yakni selama lima tahun terakhir itu kontribusi sektor industri terhadap PDB cenderung menurun. Sampai triwulan kedua 2005, kontribusi sektor industri terhadap PDB baru mencapai rata-rata 2,6 persen. Kenaikan harga BBM pada Maret 2005 rata-rata sebesar 29 persen dan Oktober 2005 rata-rata sebesar 126 persen. Selain itu, kenaikan tingkat suku bunga SBI yang mendongkrak suku bunga pinjaman merupakan biangnya peningkatan akselerasi proses deindustrialisasi selama 2005. Biaya Produksi Pasalnya, kenaikan BBM dan suku bunga pinjaman telah menaikkan biaya produksi secara signifikan di sektor industri. Sementara harga jual produk di pasar, baik pasar dalam negeri maupun pasar ekspor, tidak dapat dinaikkan setara dengan kenaikan biaya produksi. Menurut dosen Fakultas Ekonomi UGM itu, kalau tidak ada komitmen dan upaya serius dari pemerintah untuk segera menggerakkan kembali sektor industri, diperkirakan kondisi 2006 tidak jauh berbeda dengan 2005, bahkan bisa lebih buruk. Jika hal itu terjadi, tidak menutup kemungkinan akselerasi proses deindustrialisasi di republik ini akan semakin meningkat eskalasinya pada 2006. Kalau akselerasi proses deindustrialisasi itu tak dapat segera dihentikan, maka tidak mustahil akan tamatlah riwayat sektor indutri di bumi persada ini. ''Dan pada saat tamatnya industri Indonesia, kekhawatiran berbagai pihak bahwa bangsa indonesia akan menjadi kuli di negerinya sendiri akan menjadi kenyataan,'' imbuhnya. Yang menjadi pertanyaan Direktur Program Diploma Ekonomi UGM itu, yakni mampukah Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid kedua di bawah arahan Presiden SBY mencegah terjadinya deindustrialisasi pada 2006? Kalau ternyata gagal maka tidak menutup kemungkinan bagi SBY untuk menerbitkan KIB jilid ketiga. ''Kalau KIB jilid ketiga ternyata juga gagal, maka jangan harap rakyat akan kembali memberikan amanahnya kepada SBY pada musim pemilihan presiden 2009 mendatang.'' (P12-33 |