logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 06 Januari 2006 EKONOMI
Line

Daya Beli Masyarakat Purwokerto Rendah

PURWOKERTO - Pemimpin Bank Indonesia Cabang Purwokerto, Mochtari, Rabu (4/1), mengemukakan dalam survei konsumen Desember 2005, wilayah kota Purwokerto memperlihatkan perkembangan yang relatif sama dengan September, Oktober, dan November 2005. Meski Desember lalu menunjukkan sedikit kenaikan ketimbang November, indeks survei konsumen masih berada pada tingkat rendah, di bawah 100.

Pemicu utama rendahnya ketiga nilai indeks itu adalah langkah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak pada Oktober 2005. Nilai indeks keyakinan konsumen 82,50 atau naik 4,66 poin dari bulan November. Hal itu mencerminkan bahwa masyarakat tetap kurang optimistis atas kondisi perekonomian secara keseluruhan.

Indeks kondisi ekonomi naik 4,56 poin dari bulan sebelumnnya. Indeks kondisi ekonomi Desember 70,33. Itu berarti masyarakat Purwokerto menilai kondisi perekonomian saat ini tetap kurang baik. Implikasinya, konsumen segera menurunkan tingkat konsumsi.

Indeks ekonomi keseluruhan bulan Desember naik 4,77 poin dari November, yakni 94,67. Itu berarti masyarakat menganggap enam bulan yang akan datang kondisi perekonomian tetap kurang baik. Implikasinya, konsumen tak berencana menambah konsumsi. Bahkan cenderung mengurangi konsumsi.

Kian Buruk

Kenaikan bahan bakar minyak juga berdampak langsung terhadap masyarakat. Masyarakat menahan tingkat konsumsi saat ini dan rencana konsumsi enam bulan mendatang.

Terbukti, berdasar jawaban atas pertanyaan current issues, 63% responden menunjukkan penurunan konsumsi masih disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar minyak. Selain itu, 58% responden masih menilai kenaikan harga bahan bakar minyak akan berdampak buruk terhadap perekonomian.

Kondisi kian buruk dengan kemunculan isu negatif seperti kenaikan tarif dasar listrik. Sebab, hal itu akan memicu kenaikan harga barang secara umum serta menurunkan daya beli masyarakat. Paling tidak sekitar 60% responden menyatakan akan menurunkan konsumsi akibat kenaikan tarif dasar listrik.

Memang muncul isu soal rencana kenaikan gaji pegawai negeri sipil (PNS) dan kenaikan upah minimun kabupaten. Namun isu itu tak mampu mendorong perilaku positif konsumsi. Paling tidak 71% responden menyatakan pola konsumsi mereka tak akan berubah.

Sementara itu, sekitar 12% responden menyatakan meski gaji PNS naik, mereka tetap menurunkan konsumsi. Sebab, efek negatif kenaikan harga bahan bakar minyak tetap lebih tinggi ketimbang efek positif kenaikan gaji PNS. (in-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA